AdekDDS
Rintik bulir cair, cairkan tanah
Meresap tak kendali dan melebar

Kasih sepi sendiri di kotanya,
Tanpa badai ia pun tetap terluka dan menangis
(lagi…)

AdekDDS

Bola mata menganga semakin lebar
Tak berkompromi dengan malam
Satu, dua, tiga kata
Kembali terangkai padu
Kenapa kau selalu memakiku?
Ku gapai tanganmu
(lagi…)

ArifRizki

Di bukittinggi kuhitung pula jumlah kesepian yang dera mendera
Tapi aku merupa bentuk kesepian yang sempurna
Seumpama Jam Gadang yang mulai asing,
Aku menjumlah waktu sendiri dan terlunta
Lalu di kota gigil ini, setelah jemu menjumlah waktu
Kuingat tentang satu pintu;

(lagi…)

DeviKurniaAlamsyah

Sesak sekali disini. Di waiting room ini, semua orang berjejalan menunggu maskapai penerbangan mereka masing-masing. Ada yang berdiri dan ada yang duduk sambil menonton acara televisi. Ada yang asyik menekan tombol-tombol handphone dengan lincahnya memberi kerabat pesan elektronik singkat. Ada bapak berbaju safari yang berbicara seakan ingin semua yang hadir disana tahu bahwa ia baru saja menang tender milyaran. Beberapa orang terlihat cemas sambil sesekali melirik jam di pergelangan kirinya, di-delayed lagi pesawatnya mungkin pikirku. Sedang aku berdiri mantap di tengah ruangan seraya menatap layar monitor yang tergantung di dinding. Aku mencoba pahami huruf-huruf dan angka-angka di layar monitor itu sambil mematut tiket pesawatku. Setengah jam lagi pesawatku baru landing tampaknya.
(lagi…)


Eka
di sini ada keranda menunggu mati
ada kafan mau membungkus sepi
ada mata menyimpan puisi belum jua terpemi
ada janji dalam kata, entah sampai kapan bisa dibukti

Pekanbaru, September 2008

Andika Destika Khagen


Aku pantas marah, entah kepada siapa. Oh, lihat, sudah dua jam aku duduk di mobil, menghabiskan satu bungkus rokok, dua bungkus es jeruk. Hari memang panas, namun di dalam mobil ini jauh lebih panas. Kenapa mesti siang-siang begini aku mesti terjebak dalam kemacetan? Sudah dua jam, baru dua kali gas bisa kuinjak, itu pun hanya perlahan. Sangat perlahan. Ada sekitar 30 mobil lagi yang berada di depanku. Telah kuhitung, hanya ini pekerjaan yang bisa mendamaikanku dalam keadaan begini, aku berada diurutan ke-31 di belakang mobil truk. ”tit…..tit..tit..” Entah dari mobil mana, tiap sebentar klakson berbunyi. Walau semua yang berada dalam kemacetan ini sadar tak mudah lepas dari derita ini.
(lagi…)

RioSY
apa yang kumiliki selain diriku
gambar tiga lingkaran bulan
wajahmu, ibumu, dan aku
warnawarni pensil menjadi hamparan kuning sawah
tumbuh sebatang pohon jambu
angin menyentuh buah merahnya
seorang ibu lagi tersenyum
memetik dagu, mencubiti pipimu

genang air seperti linangan. mungkin karena hujan
di atasnya perahu kertas meriak kedalaman lubuk
di sana aku tenggelam sebagai pendendam
demi merebut cintamu dari istriku

(RuangSempit, 2008)


RioSY
kian tumbuh dalam semedi banyak orang
yang berkain hitam mari debus kita gelar
(lagi…)

RioSY
(Padang Ekpress, 12 Otk 2008)

lambai tangan ataukah pelukan yang kita
dapatkan di stasiun. tempat airmata
sering tumpah. bagai gelas di senggol rebah
tempat orangorang menjelang penantian
kembali dan pergi
(lagi…)

RioSY
sebelum perahu itu tiba
perahu tamasya tak berpenumpang itu
lepaskan aku berlarilari telanjang
bersoraksorai. berenang di cebur laut
mengucapkan salam
pada kapal yang bertolak dan menepi di pelabuhan
menghitung petipeti ikan hasil tangkapan semalam
lantas diusir nelayan-marah,
tapi kubalaskan dengan membuat
perahu dari sobekan kertas
lalu kulayarkan dalam dendam

(RuangSempit, 2008)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »