Oleh Novriandi Putra
Ku usap muka ini dengan pasir, gesir hingga desir berbisik,lalu kuraba dadamu dalam gerusan terik yang tak terusir.
Dan,Timbanglah kata-kata pada batu, lalu menjawab waktu
Khafilah kan terus berlalu pada gurun gurun pasir dan waktu yang membatu pada ujung kata-kata, yang luka pun membeku disetiap saku-saku yang terkulai layu







