puisi


Oleh Novriandi Putra

Ku usap muka ini dengan pasir, gesir hingga desir berbisik,lalu kuraba dadamu dalam gerusan terik yang tak terusir.

Dan,Timbanglah kata-kata pada batu, lalu menjawab waktu

Khafilah kan terus berlalu pada gurun gurun pasir dan waktu yang membatu pada ujung kata-kata, yang luka pun membeku disetiap saku-saku yang terkulai layu

oleh: Eka

waktu,
pejamkan mataku ketika
sudah tak ada lagi kata
yang perlu dibahasakan
ketika tak ada lagi bahasa
yang perlu diucapkan

waktu,
pejamkan mataku
ketika jarak antara kita
sudah tak jadi rahasia

ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

lama aku tak menjemputmu dengan kuda ini.
kuda yang dulu bising derapnya dikalahkan oleh gedebar jantungku
ketika hendak menjemputmu yang bermenung
di batas rindu dan sepi yang memburu
(lagi…)

;semalam ada yang menikam tuhan

ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

pada angan yang penuh gerombolan onta-onta tua yang berlarian,
ia menikam-nikam dadanya yang menyimpan junjungan
maka dengan senyala kobaran dendam
ia ukur panjang pedang
hari-hari pencarian adalah hari-hari pelarian. demikian sesuatu tertanam
pada hati yang tak simpan takaran
(lagi…)

ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

karena setiap hari kudapati orang-orang berlarian
di atas angin
sedang aku sungguh padu berakit-rakit menuju hulu
meski nasib yang menggenang,
tak jua berenang ke tepian
(lagi…)


ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

jika kau ada berkesempatan
bermadianlah dengan hujan yang menerpa ruangku
maka kita akan memiliki mata yang sama
-dengan demikian pandang kita tiada akan berbeda
(lagi…)

ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

maka akan aku selesaikan seluruh arca
lalu kubuatkan sebentang danau lengkap dengan pulau
beserta perahu berujung kepala naga
dan sepuh batu pualam di tepiannya
;dalam sekedip saja
(lagi…)

ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

seperti sebuah surat lama, kau akan membacaku sebagai himpunan kata
yang mudah membawa tawa. hingga pada sepenggal hari yang penuh ragam,
kau ceritakan tentang muasalku yang haru biru
sejarah yang sepenuhnya abu
(lagi…)

ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

lalu kau menggaris sebentang tanah lapang
kemudian membangun rumah mungil, kolam ikan kecil, dan ladang
yang berkerikil
“rumah paling rahasia, tempat sebuah keluarga di masa tua”
kau sempat juga memelihara itik-itik yang berkandang tepat di samping rangkiang
yang menyimpan padi yang tiap butirnya adalah kenangan
(lagi…)

AdekDDS

Tak pernah lagi kusisiri rambut ini
Sebab setiap kali ku jamah uban rontok berserakan
Aku makin tua dan hampir musnah
Cermin gambarkan bayang mukaku
Mencoba tersenyum, tak bisa,
Sia-sia
(lagi…)

Halaman Berikutnya »