essay


coolstuff_ieme05244820_iRio SY

Salah satu pandangan Baudillard yang berhubungan dengan cara hidup masa kini, bahwa diri kita, dikatakannya berada di dalam era akhir rahasia. Artinya segala sesuatu yang tabu dan segala yang seharusnya tidak dibuka telah berakhir. Masuk pada era kebebasan dan keterbukaan.

Di barat penghancuran tabu itu diwakili oleh Madonna, Britney Spears, sedangkan di Indonesia barangkali adalah Agnes Monica atau Dewi Persik. Mereka adalah perpaduan dekonstruksi terhadapa nilai-nilai luhur (tabu, moral, mitos, spiritual) melaui penggunaan tubuh sebagai sebuah tanda dalam kehidupan.

Sesungguhnya tabu memiliki peran yang sangat penting dalam mendefenisikan dan membentuk dunia penampakan atau dunia objek. Tabu merupakan setu mekanisme sosial yang bersifat abstrak dan berfungsi memberikan batas-batas bagi manusia dalam mengekspresikan diri mereka melalui dunia objek. Tabu memberikan rambu-ramb mengnai apa yang pantas, kurang pantas, dan tak pantas untuk dilihat, dipertontonkan, dilakukan dalam suatu system sosial.

(lagi…)

Rio SY
[ Harian Singgalang, 12 Oktober 2008 ]

Kemudian segala sesuatu yang “lebih” telah membuat manusia menjadi bangga, bahkan jatuh pada lubang yang bernama kesombongan. Misalnya harta yang lebih banyak, kedudukan yang lebih tinggi, kemampuan yang lebih baik. Lalu muncul eforia tersendiri dalam dirinya dan seringkali diungkapkan dengan rasa bangga, bahkan berlebihan. Kebanyakan orang menyebutnya “sombong”. Sedangkan kesombongan itu sendiri mengacu pada kebanggan yang berlebihan.
(lagi…)

FadlyAkbar

If you got what you want
But not what you need
(Coldplay, Fix You)

Jean Baudrilard, seorang posmodernist perancis, dalam pemetaan keilmuannya yang provokatif terhadap kajian-kajian sosiologi memperlihatkan bagaimana analisis sistem produksi Marxisme atas konstruksi relasi sosial dalam kapitalisme muthakir sudah menjadi kurang relevan. Dalam keberlangsungan roda kapital itu Baudrilard lebih melihat bagaimana sistem konsumsi lebih mendapatkan tempat utama dalam mereproduksi lapisan masyarakat. Hal ini, salah satunya, muncul atas sebuah transformasi dalam cara masyarakat menerjemahkan atau memaknai defenisi kebutuhan, setelah dalam proses konsumsi melahirkan apa yang ia sebut sebagai sistem kode. Artinya, dalam kapitalisme lanjut masyarakat tidak membeli apa yang mereka butuhkan, akan tetapi membeli apa yang kode sampaikan pada mereka tentang apa yang seharusnya dibeli. Sederhananya, manusia tidak membeli apa yang mereka butuhkan, melainkan membeli apa yang mereka inginkan (tentunya setelah proses pengkodean itu beroperasi).
(lagi…)

FadlyAkbar
“Tontonan-tontonan sekarang betul-betul sudah sangat kurang ajar. Bayangkan, baru bangun tidur kita sudah disuguhkan tentang perceraian artis yang tidak ada hubungan darah dengan kita dan juga tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi keberlangsungan kesuksesan kehidupan kita di masa akan datang.” Begitulah kurang lebih guyonan Andan, mentor dari ruang rupa dalam sebuah diskusi workshop yang digagasi oleh komunitas seni Belanak 28 Agustus ini. Lalu ia menterjemahkan selorohnya itu untuk 2 orang mentor asing dari Engagemedia Australia, Anne Helmet dan Andy Nicholson (Andycat). Dan merekapun ikut tertawa.
(lagi…)


Andika Destika Khagen


Euforia kemerdekaan menggema di seluruh negeri Indonesia. Bendera merah-putih berkibar penanda masih ada rakyat yang peduli pada arti kemerdekaan. Pada hari ini, Bung Karno disebut, Bung Hatta dipuja, dan pahlawan lain dikenang. Eforisme kemerdekaan menusuk sanubari. Ini hari untuk mengenang penjajahan kolonial yang menyakitkan dan meruntuhkan moral bangsa. Dalam lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan dengan khidmat, tertanam sebuah semangat untuk tidak lagi dijajah, apalagi ditindas.
(lagi…)



Rio SY

Bila bagi kaum Pythagoras atau kaum matematika, dunia adalah angka-angka maka bagi orang sastra dunia adalah fiksi, dengan kata lain dunia di bentuk oleh fiksi. Begitulah terlebih dan kurangnya.

(lagi…)


Andika Destika Khagen

“Sayangnya aku hidup di jamanmu. Zaman yang sulit kumengerti, namun berusaha terus kupahami.” Ada makna tersembunyi di balik kata-kata yang diucapkan Dedy Mizwar dalam film Nagabonar jadi 2. Ia tak hendak berbicara penyesalan, justru mencoba menerima keadaan yang di luar batas pikirannya. Keadaan muda, keadaan realitas kini yang diperbentangkan. Keinginan muda—sebuah keinginan yang tanpa tara dan seolah tak mengenal lara. Lara bisa saja bearti ‘dunia lain’ pertentangan: dunia pemberontakan, dunia pemikiran, dunia sadar akan cita-cita. ‘Dunia lain’ tak bermakna sempit. Cendrung mengarah kepada dimensi pencapain. Tak selalu bersifat universal, jelas sebuah identitas yang beragam. Beragam. Betapa kata tersebut begitu tinggi ranah oksiologinya.

(lagi…)

Arif Rizki

Ketika masa kejayaan Islam dipimpin oleh khalifah Harun Al-Rasyid, sastra lisan cukup mendapat tempat yang terhormat bagi masyarakat. Banyak penyair-penyair diundang ke istana untuk memberikan nasihat-nasihat serta pemikiran cemerlang yang inspiratif sekaligus menghibur. Ketika itu Harun membina suatu hubungan karib dengan seorang pencerita yang bernama Bahlul. Ia merupakan pencerita yang sangat disenangi oleh baginda raja, sehingga ia leluasa masuk-keluar istana sesukanya. Suatu siang Bahlul berkunjung ke istana untuk menemui Harun Al-Rasyid. Ketika ia tiba di istana, ia tidak menemukan siapapun  di balairung. Barangkali baginda dan para pengawalnya sedang makan siang dan beribadah, pikirnya.
(lagi…)

FadlyAkbar

Adalah sebuah keniscayaan agaknya, sebuah karya sastra lahir atas zaman (ruang dan waktu) yang membentuknya. The Old Man and The Sea ditulis Ernest Hemingway dalam masyarakat yang konon berpandangan liberal; The God of Small Things dan Bumi Manusia karya Arundhati Roy dan Pramoedya Ananta Toer lahir dizaman pasca penjajahan dimana pribumi terkatung-katung dalam ke-krisisan identitasannya. Tentunya, masih banyak karya-karya lainnya yang terbentuk sebagai tanggapan atas zamannya.
(lagi…)

FadlyAkbar

Dalam perkembangannya, budaya pop ( baca juga sinema pop) adalah sebuah lahan yang dipenuhi kontroversi. Ia telah menuai perdebatan yang sengit terutama sekali jika dihubungkan dengan keberadaannya sebagai referensi akademis dan ilmiah. Karya pop lebih sering dianggap sebagai karya yang tidak layak diperbincangkan secara ilmiah karena tidak mengandung nilai-nilai ‘kekekalan’ seperti karya sastra berkelas. Bahkan Thomas J. Roberts menyebutnya sebagai junk, sesuatu yang bersifat sampah. Hal ini mungkin saja dipahami oleh Robert karena kebanyakan karya pop lebih bersifat dan berorientasikan menenangkan benak pembaca atau audiensnya. Ia lebih bersifat menghibur, memuaskan keinginan-keinginan pembaca atau audiens, dan bukan untuk membebani mereka dengan hal-hal yang serius.

(lagi…)

Halaman Berikutnya »