
Andika Destika Khagen
[Dimuat Harian padang Ekspress, 7 Desember 2008]
Telah lama kutunggu Hasim di ruang tamu. Ia akan datang hari ini. Mungkin sebuah pertemuan yang tak terkendali. Aku menunggunya tak ramah, juga tak akan tersenyum. “Percayalah. Aku mesti tegas.” Pintu pagar sengaja tak dikunci dan diperbiarkan terbuka lebar. Aku ingin ia melihatku gelisah sebelum duduk di sampingku. Atau ciut sebelum nalarnya jalan dan amarahnya meletup. Aku harus benar-benar siap.
Baiklah. Hasim telah datang. Sengaja aku tak menoleh kepadanya. Barangkali ia akan menyapa, “Aku memenuhi janjimu. Mari kita berdebat.” Tapi tidak, ia hanya duduk diam seperti batu. Barangkali ia tahu apa yang ada dalam pikiranku sekarang ini. Aku melihat gerak-geriknya seksama.
“Jadi apa yang kau inginkan Hasim?” Telah lama kutunggu ia bersuara, atau sekedar bertanya, “Apa kabar hari ini?”. Namun, tak juga kata itu keluar dari mulut Hasim. Ia hanya diam. Tak menoleh juga.
(lagi…)






