cerpen


bay-rs346

Andika Destika Khagen
[Dimuat Harian padang Ekspress, 7 Desember 2008]

Telah lama kutunggu Hasim di ruang tamu. Ia akan datang hari ini. Mungkin sebuah pertemuan yang tak terkendali. Aku menunggunya tak ramah, juga tak akan tersenyum. “Percayalah. Aku mesti tegas.” Pintu pagar sengaja tak dikunci dan diperbiarkan terbuka lebar. Aku ingin ia melihatku gelisah sebelum duduk di sampingku. Atau ciut sebelum nalarnya jalan dan amarahnya meletup. Aku harus benar-benar siap.
Baiklah. Hasim telah datang. Sengaja aku tak menoleh kepadanya. Barangkali ia akan menyapa, “Aku memenuhi janjimu. Mari kita berdebat.” Tapi tidak, ia hanya duduk diam seperti batu. Barangkali ia tahu apa yang ada dalam pikiranku sekarang ini. Aku melihat gerak-geriknya seksama.
“Jadi apa yang kau inginkan Hasim?” Telah lama kutunggu ia bersuara, atau sekedar bertanya, “Apa kabar hari ini?”. Namun, tak juga kata itu keluar dari mulut Hasim. Ia hanya diam. Tak menoleh juga.
(lagi…)

RioSY
[ Dimuat di Lampung Post, 12 Oktober 2008 ]

IA duduk berjuntai kaki di bagian belakang bak pedati. Bersandar pada papan menyanggah tumpukan padi yang berkarung-karung banyaknya. Ia terus memandangi segala yang ditinggalkan.
Ia menahan napas.

Derak kayu bak pedati makin berisik dan keras bunyinya. Tumpukan padi itu sedikit berayun. Seperti mau runtuh. Pedati bagai mau patah.

Tentu. Tentu saja pedati itu berderaknya kuat sekali karena beban yang ditanggungnya tidaklah sedikit. Di atas bak itu ada beberapa karung padi yang tumpukannya melebihi tinggi bak. Padi yang hendak dibawa ke Balaiselasa. Sebab, di sana perputaran uang jual beli beras lebih cepat dibanding dengan Painan. Jadi begitulah seorang pedagang mengharapkannya sehingga Balaiselasa menjadi salah satu tempat pilihan yang memenuhi syarat bagi si tukang pedati tersebut.
(lagi…)

DeviKurniaAlamsyah

Sesak sekali disini. Di waiting room ini, semua orang berjejalan menunggu maskapai penerbangan mereka masing-masing. Ada yang berdiri dan ada yang duduk sambil menonton acara televisi. Ada yang asyik menekan tombol-tombol handphone dengan lincahnya memberi kerabat pesan elektronik singkat. Ada bapak berbaju safari yang berbicara seakan ingin semua yang hadir disana tahu bahwa ia baru saja menang tender milyaran. Beberapa orang terlihat cemas sambil sesekali melirik jam di pergelangan kirinya, di-delayed lagi pesawatnya mungkin pikirku. Sedang aku berdiri mantap di tengah ruangan seraya menatap layar monitor yang tergantung di dinding. Aku mencoba pahami huruf-huruf dan angka-angka di layar monitor itu sambil mematut tiket pesawatku. Setengah jam lagi pesawatku baru landing tampaknya.
(lagi…)

Andika Destika Khagen


Aku pantas marah, entah kepada siapa. Oh, lihat, sudah dua jam aku duduk di mobil, menghabiskan satu bungkus rokok, dua bungkus es jeruk. Hari memang panas, namun di dalam mobil ini jauh lebih panas. Kenapa mesti siang-siang begini aku mesti terjebak dalam kemacetan? Sudah dua jam, baru dua kali gas bisa kuinjak, itu pun hanya perlahan. Sangat perlahan. Ada sekitar 30 mobil lagi yang berada di depanku. Telah kuhitung, hanya ini pekerjaan yang bisa mendamaikanku dalam keadaan begini, aku berada diurutan ke-31 di belakang mobil truk. ”tit…..tit..tit..” Entah dari mobil mana, tiap sebentar klakson berbunyi. Walau semua yang berada dalam kemacetan ini sadar tak mudah lepas dari derita ini.
(lagi…)

Rio SY

Aku belum terlampau lelap, sehingga, lagi-lagi suara erangan yang teramat pilu itu bisa kudengar. Walau tak begitu sempurna tetapi cukup untuk membuatku tersintak di tengah malam. Mendadak ada kecemasan yang harus kubayar dalam diriku. Suara apa gerangan yang mengerang sedemikian pilunya.

Aku mulai menyusun perkiraan, dengan anggapan-anggapan sementara. Selalu saja muara perkiraan itu sampai pada anggapan bahwa erangan itu adalah suara orang yang sedang terbunuh, sedang diregang maut. Suara kesakitan yang amat dalam. Apalagi namanya jika bukan pembunuhan yang menyisakan suara sepilu itu. Bahkan derap langkah kaki yang terdengar aneh, dan suara-suara dengan perkataan menakutkan itu semakin memperkuat dugaanku.
(lagi…)


Rio SY

(Padang Ekspress, 31 Agustus 2008)

IA menengadah. Lagi. Ditatapnya lengkung bulan yang tampak seperti perahu putih yang tengah berlayar di langit. Telah berkali-kali bulan perahu terpajang di malamnya langit dan berkali-kali itu pula ia menatapnya. Bulan inilah yang dulu menyambut kedatangannya untuk pertama kali di Muarosakai ini. Dulu, seperti ini pula ia menengadah ketika baru saja menginjakkan kaki di sini. Dan bulan perahu ini juga yang sedang menyambutnya kembali.

Sepelemparan batu dari tempat ia berdiri ada sebuah pondok di tepi jalan, bentuknya panggung tanpa pintu dan jendela pada keempat sisinya. Pondok itu sebenarnya berada di antara pinggir sawah dan pinggir jalan. Ia mendekat ke sana. Sebentar ia tertegun, sebab di pondok itulah ia singgah waktu pertama kali datang dulu.

Dulu.
(lagi…)


Andika Destika Khagen

Secangkir kopi, segelas air putih, sepotong roti, dan menunggu cahaya melewati kabut, kuulangi setiap pagi di teras rumah yang rimbun. Cakap burung kudengar tanpa risau. Ini pagi tenang, ketika embun-embun tak lagi bersembunyi di balik dedaunan. Istriku terbangun jauh sebelum suara azan menggema dari masjid di belakang rumah. Aku terbangun, tak lama setelah ayam jantan berkokok. Ah, istriku sadar betul, di teras rumah telah disediakannya secangkir kopi, sepotong roti, segelas air putih, menemani pagi.
(lagi…)

Andika Destika Khagen

Seharusnya aku berbahagia menerima kenyataan: anak pertamaku lahir. Persis seperti istriku yang sedang tersenyum di samping bayi mungil itu. Aku Ayahnya yang turut serta membantu ia lahir. Kebahagiaan itu mestinya bertambah. Bayi merah yang kini masih menangis adalah anak pertamaku—mungkin—juga anak terakhir. Setelah kelahiran bayi itu, istriku didaulat tak lagi boleh melahirkan. Ia terkena kanker rahim.
(lagi…)

Arif Rizki

Sudah berjam-jam Pidiq memperhatikan tanda itu. Tapi ia tak juga merumuskan jawaban; kiranya apa yang ia risaukan. Ia teguh-teguhkan hatinya untuk tetap bertanya, apa yang tengah ia risaukan dengan tanda itu. Sepatutnya tak ada yang perlu ia cemaskan. Tapi ia merasa ada yang perlu ia pikirkan—berjam-jam.

(lagi…)

Rio SY


(Singgalang, 27 Juli 2008)

Tetapi, ia mencoba menghubung-hubungkan ingatannya dengan kehadirannya di tempat lain. Saat ini. Baiklah. Mungkin Anda berpendapat ia sedang memungut-munguti kenangannya. Mungkin setiap orang juga akan berpendapat sama. Benar, ada bagian yang benar-benar merentang luas di matanya.
(lagi…)

Halaman Berikutnya »