demokrasi1
Arif Rizki

Tahun 2009 adalah tahun yang penuh debar. Ruang-ruang publik dan ruang-ruang politik telah bercampur-baur dengan slogan-slogan, spanduk dan poster-poster para elit yang menawarkan berbagai macam tanda yang akhirnya mengarak-arak semuanya kepada sebuah isu simulakra politik yang menawarkan sebuah realitas dimana tanda dan cintra telah terdistorsi, tereduksi, menyimpang, terkikis, bergeser dan kabur dari realitas yang sebenarnya. Kita digiring masuk kedalam sebuah ruang yang penuh alibi, tak ada satupun tersangka di situ.


Simulakra politik dapat dipahami sebagai suatu keadaan dimana realitas kita telah diaduk-aduk oleh tanda-tanda yang mengakibatkan kita mengalami sebuah false consciousness (kesadaran semu). Spanduk-spanduk yang bertebaran di jalan-jalan atau slogan-slogan tentang perubahan dari para elit menjelang Pemilu 2009 ini membuat kita percaya bahwa mereka adalah tokoh protagonist seperti Robin Hood, Superman, Si Pitung atau Jaka Tarub yang muncul sebagai resolusi semua catatan permasalahan dalam hidup. Para ‘hero’ itu mengganti realitas kita dengan sebuah realitas lain dan kita tak menyadari pergantian itu. Baudrillard menggunakan istilah ‘hyper realitas’ untuk kasus seperti ini. Kita dapat melihat banyaknya iklan-iklan politik yang dijadikan sebagai media pencitraan diri para ruller elit. Ada iklan yang menganggap negeri sudah terlalu bobrok sehingga perlu perubahan, ada pula yang malah mengatakan negeri ini telah menggenapi berbagai macam kemajuan dalam bidak ekonomi, sosial maupun kultural, dan ada pula yang menganggap negeri ini sudah terlalu jauh ketinggalan sehingga membutuhkan pahlawan. Iklan-iklan politik inilah yang dimaksud dengan simulakra politik yang mempermainkan realitas kita sehingga kita menerima kenyataan bahwa hiper realitas itu adalah realitas kita sendiri.

Dalam abad informasi yang telanjang ini, tanda dan citra dimainkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Dalam konteks politik, pencitraan-pencitraan sangat efektif untuk mencapai tujuan itu. Permainan tanda-tanda dan citra, membuat kita tak mampu membedakan siapakah sebenaranya penjahat, pencuri, pembunuh ataupun penipu dari wajah-wajah yang tergambar di spanduk-spanduk di seluruh jalan. Sebab semuanya terlihat seperti Superman, Robin Hood dan bahkan menyerupai Jaka Tarub dan Si Pitung. Sehingga pilihan seperti apapun tetap akan membuat kita percaya bahwa merekalah pahlawan kesiangan itu.

sumber: http://manequinism.wordpress.com/