dsc02084Kampus menjadi pilihan ruang kreatif untuk melaksanakan diskusi berbagai tema. Dari persoalan minat, intensitas peserta, dan beragam pembacaan terhadap ilmu pengatahuna, sains, dan budaya dihadirkan di kampus. Karena memang kalangan mahasiswa memang lebih banyak mempunyai waktu luang untuk hal-hal yang berbau diskusi.
Begitu juga dengan Diskusi Sastra Sumatra Barat (DSSB) yang diadakan di ruang sidang Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Negri Padang (UNP), Sabtu pekan yang lalu (3/1/2009). DSSB yang sudah masuk putaran ke-tiga dan Unit Kegiatan Kesenian UNP disepakati untuk memotori acara. Kegiatan yang berlangsung sekali tiga bulan tersebut sudah berlangsung sebelumnya di Komunitas Seni Intro Payakumbuh dan Fakultas Sastra Universitas Andalas.

Menurut Dela (27) anggota komunitas seni Intro sekaligus penitia perdana acara menjelaskan bahwasanya kampus telah menjadi sasaran titik tolak untuk melaksanakan kegiatan seperti ini, karena kampus merupakan pusat informasi global.

DSSB kali ini dihadiri oleh banyak undangan dari komunitas-komunitas sastra dan seni yang berada di lingkungan kampus, independen, dan perorangan yang datangdari berbagi daerah. Hadir juga Dekan Fakultas Sastra Adriyetti Amir, S.U, Peyair Rusli Marzuki Saria dan Sastrawan-sastrawan muda akhir-akhir ini menggairahkan panggung kesusastraan Sumatra Barat.

Tema yang dihadirkan Sastra Populer, pembicara Ria Febrina (Penyelia Sastra P’mails), dengan makalah berjudul “Pembaca untung jika selektif dan kreatif” dan Fadli Akbar (akademisi sastra) dengan topik “Sastra populer yang adilihung dan Sastra Adiluhung yang Populer: Memahami Sebuah Batas yang Semakin Melebur”. Moderator Andika Destika Khagen (Mahasiswa UNP).

Sastra “populer” di Indonesia menjadi gerakan lain di baik sastra “serius”. Tapi penandaan antara “populer” dan “serius” menang hanya sebatas ungkapan yang datang begitu saja seiring maraknya teenlit, chicklit, metro pop, dll.

Tema yang dihadirkan kali adalah usaha untuk menjawab fenomena sastra hari ini di tengah semaraknya media massa yang memunculkan karya-karya sastra begitu banyak. Karya-karya tersebut bisa langsung dibaca sekali duduk sambil minum kopi. Tapi di balik itu semua ada semacam permunculan dikotomi, mencuatkan semacam batas antara sastra yang muncul di media massa, buku, dengan frame khusus; yakni sastra seriu san populer.

Contohkan saja dengan karya-karya semacam Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, Kambing Jantan, Jomblo yang laris manis dijual di toko-toko buku diperbandingkan dengan cerpen atau puisi yang muncul di rubrik minggu sebuah harian yang menyediakan laman sastra.

Ria Febrina menjabarkan, pengajaran bahasa dan pemakaian bahasa Indoeseia yang tidak selayaknya menyebabkan banyak kaum muda gagap dalam berbahasa. Apalagi dalam menuliskan sebuah cerita, sebagian besar penulis sastra populer kaum muda, menurut Ria akan lebih matang lagi dalam berkreasi apabila dibekali dengan penyeliaan atau tatanan berhasa yang bagus dan tidak karuan.

Ria juga mengungkapkan, jika kita selektif dalam membaca karya-karya tersebut maka akan banyak persoalan yang akan dapat kita maknai di dalamnya. Tidak jauh berbeda, Fadli mengatakan bahwa pembicaraan mengenai sastra populer/pop (terutama perbedaan dengan sastra adiluhung) adalah pembicaraan yang sangat kompleks, seperti komplesnya dunia kontemporer. Opini-opini yang cenderung bersifat dikotomis (oposisi biner) telah dijadikan standar buku untuk memetakannya.

Jika karya adiluhung diposisikan sebagai sastra ‘tinggi’ dengan nilai-nilai luhur (berkelas, serius, indah) maka karya pop adalah sastra ‘rendah’ dengan nilai-nilai bawah (buruk, banal, asal jadi, instan). Selain itu, di dalam makalahnya Fadli juga menuliskan bahwa dalam perkembangan sastra populer telah banyak akademisi yang tertarik membahasnya, seperti banyak yang menolaknya. Ini mengindikasikan bahwa batasan yang telah ada selama ini perlahan-lahan mulai melebur di dalam ruang pengkajian ilmiah. Hal yang sangat menentukan peleburan ini tentu berasal dari pengembangan teori yang terus bergerak.

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari peserta diskusi. Romi, undangan dari portal berita padangmedia.com mempertanyakan persoalan perbedaan sastra dan pakem-pakem yang terdapat di dalamnya sehingga menjadi pembeda bagi satra “serius” dan satra “populer”. Sementara itu Anton Rais, perupa sekaligus kritikus seni rupa dari Komunitas Belanak membahas persoalan pasar bagi perkembangan sastra serius dan populer.

Anton juga mengungkapkan bahawasanya pengkotak-kotakan dan pembedaan ini hanya akan menimbulkan kemiskinan dalam karya sastra. Lain lagi dengan Dela dari Komuntas Intro yang mengungkapkan bahwa sastra yang digolongkan populer lebih banyak digemari berbagai kalangan karena tergolong bacaan yang ringan, sebaliknya sastra serius dianggap susah dipahami. Dela juga membahas fenomena ini dalam perfektifnya sebagai seorang kreator teater, bahwasanya memang sesuatu yang mengajak penonton (dalam sastra pembaca) untuk berpikir itu tak banyak diminati. Masyarakat lebih seuka yang instan.

Papa Rusli Marzuki Saria di sesi lain memberikan pengalamannya dalam sastra, juga tentang kemajuan kesusastraan di Sumatra Barat dengan banyaknya karya. Senada dengan itu dekan Fakultas Sastra, Adriyetti Amir, S.u mengungkapkan sastra dan seputar perkembangannya. (esha tegar putra/Padang Ekspress/11 Januari 2009)