Rio SY
Salah satu pandangan Baudillard yang berhubungan dengan cara hidup masa kini, bahwa diri kita, dikatakannya berada di dalam era akhir rahasia. Artinya segala sesuatu yang tabu dan segala yang seharusnya tidak dibuka telah berakhir. Masuk pada era kebebasan dan keterbukaan.
Di barat penghancuran tabu itu diwakili oleh Madonna, Britney Spears, sedangkan di Indonesia barangkali adalah Agnes Monica atau Dewi Persik. Mereka adalah perpaduan dekonstruksi terhadapa nilai-nilai luhur (tabu, moral, mitos, spiritual) melaui penggunaan tubuh sebagai sebuah tanda dalam kehidupan.
Sesungguhnya tabu memiliki peran yang sangat penting dalam mendefenisikan dan membentuk dunia penampakan atau dunia objek. Tabu merupakan setu mekanisme sosial yang bersifat abstrak dan berfungsi memberikan batas-batas bagi manusia dalam mengekspresikan diri mereka melalui dunia objek. Tabu memberikan rambu-ramb mengnai apa yang pantas, kurang pantas, dan tak pantas untuk dilihat, dipertontonkan, dilakukan dalam suatu system sosial.
Madonna, Britney, atau pun Agnes Monica, menurut Feminis Shelagh Young, telah melanggar batas-batas, melecehkan pemahaman tentang seksualitas feminism itu sendiri. Ia yang dengan video yang vulgar telah memutarbalikan wanita alamiah, dan membentuk citra wanita yang isebut dengan wanta materi.
Nah, masyarakat Indonesia yang notabenenya adalah masih menganut prinsi-prinsp tradisonal (moral, mitos, tabu) mencoba meniru wanita-wanita tadi. Tetapi apa yang terjadi? Bahwa sesungguh mereka sendiri belum siap menjadi pendekonstruksi kode-kode dalam tubuh. Tetapi karena ilusi dalam realitas semu yang mereka saksikan melaui televisi dan internet, memaksa mereka untuk meniru cara Madonna dan Britney mengekplorasi tubuhnya. Namun karena tanpa sadar mereka sebenarnya masih belum siap sehingga ketika mereka memakai rok pendek dan ketat, ketika duduk sibuk untuk menarik-narik rok tadi agar panjang dan menutupi paha mereka. Atau memakai baju yang pendek pada bagian bawahnya, ketika duduk atau melakukan sesuatu yang membuat baju nya terangkat, ia menjadi sibuk menarik-narik bajunya agar lebih panjang.
Februari 4, 2009 at 2:51 pm
siapa yang jualan tabu? he3
baudrillard melihat fenomena ini sebagai bagian dari ketercerabutan/alienasi manusia dari produk mereka dan dari manusia itu sendiri.
bahkan feminis posmodern mengindikasikan bahwa ternyata perempuan teralienasi oleh perempuan itu sendiri, tak lagi oleh sistem patriarkis.
mungkin bukan masalah hilangnya ‘rahasia’ dan’tabu’ yang menjadi bagian signifikan dalam era posmodern ini, tapi bagaimana ‘kita’ telah menjadi bagian, bukan lagi jadi penonton pasif, dalam pertunjukan dimana panggung di isi oleh penonton itu sendiri. kita menonton diri kita sendiri. kita turut aktif dalam drama itu. ex:maraknya video porno anak smu.3gp sekarang semakin membuat kita bertanya-tanya dan berkeinginan, anak sma mana lagi kira2 yang bakal bikintuh video.
semoga bermanfaat.
wassalam
Februari 8, 2009 at 12:29 pm
benarkan seorang feminis posmodern berasumsi demikian tentang perempuan?
atau adakah argumen tentang perempuan ini muncul dari kacamata seorang patriarki?
kalau memang iya, kita tentu tidak segampang mengatakan kalau perempuan itu telah teralienasi oleh dan dari mereka sendiri.
mari kita sepakati saja, kita berbicara tentang perempuan dari kacamata laki-laki
perempuan atau laki-laki saat sekarang sudah berada dalam posisi dimana subjek objek telah semakin mengabur, meski tidak mesti melebur.
posisi subjek objek ini pula yang menjadikan kita semuanya menjadi penonton, sekaligus menjadi aktor atau tokoh.
menurut bung bagaimana?
Fadli Akbar–RS
Februari 9, 2009 at 9:18 am
to Bang Apik
makasih atas pandangannya. ternyata komentar ini malah lebih mendalam dari tulisan saya sendiri. kalau begitu, barangkali judlunya seharunya adalah “Alienasi”.
Februari 9, 2009 at 9:23 am
to Bang Cipaik
kita tidak bisa menyangkal mungkin kita bicara perempuan dari kacamata laki-laki. tetapi kita juga tidak bisa menyangkal bahwa perempuan teralienasi oleh dan dari mereka sendiri.
Februari 9, 2009 at 9:29 am
to Apik and Fadli akbar
sebenarnya siapakah yang benar-benar teralienasi dengan penjualan tabu ini?
apakah benar feminis post modern mengambil peran dalam alienasi tersebut, atau hanya feminis radikal saja?
Februari 10, 2009 at 9:21 am
sore abang2….
tentang feminis postmodern?adx gak tahu persis seh? namun ketika para cowok mempergunjingkan wanita dalam tulisan bag rio neh, naluri adx sebagai perempuan tulen, juga tercerobok neh.patriarki dan matriatki (istilah apa lagi ini…)bisa mempengaruhi sikap wanita aeperti ini. namun ada hal yang para adam perlu ketahui, yakni sikap wanita yang ingin menjadi pusat perhatian (ironisnya kira2 seperti itu),mjadi motif awalnya. selain itu, memang sebagian wanita memaksakan diri untuk mengikuti keinginan dan tidak kebutuhan. nah jika hal ini menjadi budaya baru, ya tak heran ‘mereka’tdk PD dengan penampilan mereka.
satu lagi bro…berhentilah mempergunjingkan ‘mereka’ namun cobalah membicarakan dan menajdikan ‘mereka’ sumber inspirasi (dan bukan eksploitasi men..) denagn cara yang lebih elagan. terimah kasih…heheheh…hahahaha…. selamat idul fitri….
Februari 17, 2009 at 12:25 pm
hahaha…benar dek…terlalu sering mempergunjingkan kaum perempuan bisa jadi adalah sebuah eksploitasi juga
Februari 18, 2009 at 3:46 pm
he..he
tulisan teman-teman semua tentang alienasi dan kaitannya dengan perempuan hanya menyibakkan kembali keraguanku pada seseatu yang bernama essensialisme.
apakah perempuan itu ada karena sejatinya ia adalah perempuan? atau lebih karena identitas dan segala tingkahnya merupakan konstruksi atau buatan laki-laki?
ya…katakan saja ia seperti barat yang menggambarkan tentang timur.
Februari 18, 2009 at 3:55 pm
hanya untuk sekedar mengatakan bahwa arah dan sasaran konsep pemikiran ini untuk mengajak manusia agar tidak mudah nyaman dengan keistimewaan yang dibuatkan untuknya.
menjadi laki-laki mungkin sebuah posisi yang nyaman bagi sebagian manusia. mungkin juga pada barat, kulit putih, orang pintar, dan mereka yang berada pada level pertama.
namun dengan memahami bahwa semua ini hanyalah sebagian hasil dari negosiasi peradaban dengan sepenggal sejarah yang diselewengkan, lalu kita dengan acapkali segera menganggapnya sebagai sebuah kesimpulan dalam mendeskripsikan arah dan pemikiran zaman.
Mei 18, 2009 at 2:45 pm
dlm pendekonstruksian tabu, tdk ada mslah dgn msyarakat indonesia yang tmpaknya mengalami konflik eksistensi dan established essence didlam diri mereka (yg terlihat dari ketidaknyamanan mrk dlm memakai pakaian sexy). terlebih lagi essay diatas terlihat sbgai polisi moral bg msyarakat timur (indonesia)dgn cara menjustifikasi dekonstrutor dari barat dan memberikan komentar bernada sarkastik kepada orang timur yang mencoba untuk mengikuti praktek dekonstruksi tabu dari barat (mungkin komentar “sok seksi” adalah sebuah “signifier” dari ketidaksenangan kita, laki2 timur terhadap wanita timur yang mencoba untuk melawan konvensi dan tradisi yg telah disepakati)
tapi mungkin saja mereka hanya korban trend.Dan madonna, holly valance, britney dkk hanya merupakan komoditi (yg juga bisa dikategorikan sbgai korban)
tetapi laki2 jg bisa menjadi agen pendekonstruksian kode2 tubuh dan prilaku. bagaimana dengan Ron Jeremy (the legend of porn), seorang yg mengidap Hasepat dan Telapat (having sex sembarang tempat & telanjang sembrng tempat,,,he3)