RioSY
[ Dimuat di Lampung Post, 12 Oktober 2008 ]

IA duduk berjuntai kaki di bagian belakang bak pedati. Bersandar pada papan menyanggah tumpukan padi yang berkarung-karung banyaknya. Ia terus memandangi segala yang ditinggalkan.
Ia menahan napas.

Derak kayu bak pedati makin berisik dan keras bunyinya. Tumpukan padi itu sedikit berayun. Seperti mau runtuh. Pedati bagai mau patah.

Tentu. Tentu saja pedati itu berderaknya kuat sekali karena beban yang ditanggungnya tidaklah sedikit. Di atas bak itu ada beberapa karung padi yang tumpukannya melebihi tinggi bak. Padi yang hendak dibawa ke Balaiselasa. Sebab, di sana perputaran uang jual beli beras lebih cepat dibanding dengan Painan. Jadi begitulah seorang pedagang mengharapkannya sehingga Balaiselasa menjadi salah satu tempat pilihan yang memenuhi syarat bagi si tukang pedati tersebut.

Jalan kerbau pedati yang dinaikinya kian pelan. Seolah-olah beban yang ditarik bertambah berat. Lelaki yang masih belia itu menolehkan kepalanya ke arah muka. Ternyata sedang melewati sebuah tanjakan. Ia menyipitkan matanya yang teduh karena matahari sedang di ubun-ubun. Cukup jauh tanjakan ini rupanya. Sedangkan ia sedang diburu waktu. Kesabarannya untuk segera sampai mungkin akan menipis.

Ia hanya menumpang. Dan sebagai penumpang harus menenggang rasa pada pemilik pedati. Begitulah pikirnya. Lalu ia melompat turun dan berjalan di samping pedati.

“Hah! Kenapa kau turun, Jang?” tanya tukang pedati yang ditumpanginya itu.

“Saya berjalan sajalah dengan kerbau ini, Wan (tuan). Tak apa. Bebannya berat, tampak kepayahan kerbaunya, Wan.”

“Tak usah basa-basi kau, Jang. Naik sajalah.”

“Tidak, Wan. Iba juga saya melihat kerbaunya. Walaupun dia hewan, bukan berarti kita boleh seenaknya. Kalau saya naik pasti jadi tambah berat beban kerbau ini. Baiknya saya turun biar agak berkurang juga sesak napasnya.”

“Kau betul, Jang. Kalau dipikir-pikir benar, kita tidak boleh semena-mena pada binatang. Dia sudah banyak membantu meringankan pekerjaan kita.”

“Tidak itu saja, Wan. Kita manusia ini kan punya pikiran dan perasaan. Ya, sudah semestinyalah kita menggunakan pikiran dan perasaan kita ini dalam segala hal. Termasuk pada hewan. Kalau tidak berarti kita sama saja dengan kerbau ini.”

“Setuju saya itu, Jang.”

“Memangnya ada orang yang tidak berperasaan?”

“Tapi saya pikir memang ada orang yang tak berperasaan, Jang,” lanjut tukang pedati setelah berpikir sejenak. “Saya pernah dengar cerita. Ada seorang yang memelihara seekor kucing. Kucing itu dipeliharanya sejak masih kecil. Ia ingin pelihara kucing karena di rumahnya banyak tikus yang berkeliaran. Ia sangat berharap kucing itu yang akan menyelesaikan masalahnya dengan tikus-tikus itu. Tapi setelah kucing itu besar, kucing itu tidak mau menangkap tikus. Seperti tidak punya dendam saja nenek moyang kucing itu. Makin lama pemilik rumah itu makin kesal karena tikus-tikus tetap saja berkeliaran di rumahnya sedangkan kucing yang sudah dibesarkannya tidak berbuat apa-apa. Akhirnya kucing itu dibunuh si pemilik rumah dengan cara memukulnya dengan kayu.

Sungguh tidak berperasaan orang itu. Harus dikabulkan saja semua keinginannya. Kalau tidak terkabul ia akan berbuat jahat. Sama kucing saja sudah seperti itu, apalagi sama manusia. Iya, kan Jang.”

Anak muda itu melayangkan pandang. Tak terdengar apa yang telah dikatakan si tukang pedati.

“Kenapa kau, Jang?” Suara tukang pedati membuyarkannya.

“Ah, tak ada, Wan. Saya hanya teringat ayah.”

“Kenapa dia?”

“Ng..ng..seperti orang kesurupan, Wan. Hampir mirip dengan kelakuan kucing menggaruk-garuk dinding,” tutur Ujang dengan pelan dan pilu.

“Itulah, Jang. Dasar orang yang tak berperasaan. Orang tak salah apa-apa diberi obat (diguna-guna). Benarkan. Apalagi namanya kalau bukan diguna-guna kalau sudah menggaruk-garuk dinding begitu.”

Sekilas Ujang menoleh ke tukang pedati dengan mata yang gamang, tapi langsung menjatuhkan pandangannya itu kembali ke kerikil jalan.

“Iba saya dengan ayah, Wan. Sudah banyak dukun yang mencoba menyembuhkan beliau, tapi tak ada yang berhasil.” Menetes juga akhirnya air mata Ujang yang ditahannya. “Maafkan saya, Wan,” sambil menyeka air matanya. “Petang kemarin beliau benar-benar pergi. Selamanya.”

“Tabah ya, Jang.”

“Jadi saya harus sampai sebelum asar di Balaiselasa, Wan. Kalau tidak mungkin saya tak dapat melihat muka ayah untuk yang terakhir.”

“Sebanyak orang sayang sebanyak itu pula orang benci. Berarti ayah kau itu orang baik-baik. Saya percaya itu. Seperti wajahmu itu, Jang. Garis muka kau itu lembut. Saya tahu kau anak baik-baik. Seorang anak tentu tak berbeda jauh dengan ayahnya.”

“Jangan begitulah, Wan. saya tak seperti yang Wan kira.”

“Saya sudah lama hidup, Jang. Sudah puas merasai manis asin dunia. Sudah banyak bertemu orang dan bergaul. Perangai orang itu kan terlihat di roman mukanya.”

“Tapi bisa saja muka tidak menunjukkan watak yang sebenarnya, Wan,” sambil menyeka keringat yang sudah sebesar biji jagung. Mungkin karena panas matahari atau mungkin karena pendakian itu memang tinggi.

“Ee, bagaimanapun juga penampilan itu membiaskan watak seseorang. Kalau muka seperti kau ini. Mukamu punya garis yang lunak, mata yang teduh, rambut yang ikal. Sebuah muka yang polos, Jang. Tidak suka kekerasan. Kau tampaknya pendiam pula,” ujar tukang pedati sambil mengacungkan jari telunjuknya. Lalu menyeka keringatnya tetapi dengan lengan baju yang dikenakannya.

Napas kerbau itu terdengar seperti sedang digorok lehernya. Terengah.

“Jadi kau tak tinggal di Balaiselasa bersama ayah?”

“Ndak, Wan. Saya sekolah di Painan dan tinggal di situ.”

“Itulah susahnya. Sekolah rakyat baru ada di Painan. Oya, sekarang kau yang naik, Jang. Biar saya yang berjalan.”

“Tak usah, Wan. Wan di atas saja.”

“Bergantian saja kita berjalannya biar tidak terlalu lelah,” lalu tukang pedati itu meloncat turun.

Ujang pun naik ke atas pedati. Sedangkan matahari kian terik. Tak lama, Ujang merasa tak enak berada di atas sedangkan pemilik pedati berjalan. Lantas Ujang pun melompat turun.

“Sama-sama berjalan sajalah kita, Wan.”

“Ee, nanti dikira orang kerbaunya ada tiga, Jang! Kulit saya hitam, kulit kau juga hitam, sama-sama berjalan dengan pula dengan kerbau.”

Pecahlah tawa mereka. Memecah tajamnya pendakian bukit itu. Tiba-tiba bising. Tiba-tiba hening. Daun pohon bergoyang perlahan karena angin yang berembus lambat.

Tubuh kerbau menjadi lebih condong ke depan. Tapi pendakian itu masih jauh untuk sampai puncak. Belum boleh sang kerbau merasa lega. Tanpa mereka sadari mulut kerbau itu mulai mengeluarkan busa. Dengkur suaranya makin kuat terdengar. Langkahnya menjadi satu-satu. Bagai tak akan tertarik oleh kerbau itu.

Melihat itu, tukang pedati mencabut cambuk yang diselipkan pada dinding bak pedati.

“Hiss!” Sambil melecutkannya ke punggung kerbau.

Kontan kerbau itu menambah cepat langkahnya.

“Jangan sampai kau tak kuat menarik pedati ini. Kalau kau tak kuat bisa-bisa pedati ini mundur ke belakang lalu jatuh ke jurang dalam itu. Rugi saya jadinya,” tutur tukang pedati pada kerbaunya.

“Hiss!” Disentakkan lagi cambuk itu ke punggung kerbau. Seolah mengerti kehendak tukang pedati, kerbau itu mempercepat langkahnya.

Ujang merasakan gerah-angin yang aneh menyusup ke tubuhnya. Puncak pendakian bagai berlari menjauh. Serasa takkan sampai ke puncak pendakian. Ujang menjadi tak percaya kerbau itu akan mampu menaklukkan tanjakan demi tanjakan. Lihatlah kerbau itu, jangankan untuk menarik beban seberat itu. Menopang tubuhnya sendiri entah mampu entah tidak. Sementara itu, matahari kian condong.

Ia tatap kerbau yang lelah itu.

Bertahanlah! Bantu aku bertemu ayah. Jangan berhenti di sini.

Ah, betapa matahari tak menenggang. Terus bergulir ke barat, maka waktu asar pun akan segera tiba. Takkan lama.

Ia mengedip-ngedipkan matanya yang mulai tampak berkilau seperti embun yang mau jatuh dari ujung daun. Lalu ia menengadah. Ya Tuhan selamatkanlah perjalanan hambamu ini. Hamba tak ingin semuanya terlambat. Dan sampai di rumah hanya mendapati gundukan tanah dengan nisan yang bertuliskan nama ayah. Jangan ya, Allah. Hamba ingin melihat wajah ayah sebelum ia dikuburkan ya, Allah. Hamba mohon ya Allah Tuhanku.

Sayup-sayup terdengar bunyi deru mesin dari arah belakang mereka. Perlahan Ujang mulai menyadarinya dan dadanya terasa mengembang oleh napasnya. Ia menoleh ke belakang. Melihat itu tukang pedati menjadi terpancing untuk menolehkan mukanya ke belakang. Deru mesin itu makin terdengar dengar jelas.

“Nah, Jang. Sepertinya itu bunyi truk. Kau menumpang truk itu saja biar cepat tiba di Balaiselasa.”

Bibir Ujang mulai tertarik ke samping membuat sebuah senyum.

Truk itu makin jelas dan mendekat. Sebuah truk bekas tentara Belanda. Ujang melambaikan tangan dan truk itu pun kia lambat lalu berhenti tepat di depannya.

“Wan, numpang saya satu, Wan.”

“Ke mana?”

“Ke Balaiselasa, Wan.”

“Naiklah. Cepat.” Dengan sedikit menggerakkan kepalanya, sopir truk memberi aba-aba ke belakang truk.

Ujang bergegas menaiki bak truk. Pintu rumah bagai telah tampak olehnya.

Ayah. Ujang membatin.

“Wan, terima kasih ya, Wan,” teriak Ujang pada tukang pedati sambil melambaikan tangan.

Ujang merasakan legah di dadanya. Sementara itu, truk bergerak menjauhi tukang pedati. Menjauh. Kian menjauh. Tapi Ujang terus menatap ke belakang. Ke tukang pedati.

Tiba-tiba kerbau itu tertelungkup karena kakinya sudah tak kuat menahan beban. Karung-karung padi itu pun merosot ke bawah dan menimpa tubuh tukang pedati, ia mengangkat tangan dan melambai. Seperti memanggil. Seperti meminta. Ujang tersentak melihat tukang pedati malang itu.

“Wan, Wan!” Ia mengetuk-getuk dinding truk hendak memberhentikannya.

“Ada apa?” tanya sopir.

“Eh, ng…tak ada apa-apa, Wan.”

Ruangsempit, 2008