RioSY
[ Dimuat di Lampung Post, 12 Oktober 2008 ]
IA duduk berjuntai kaki di bagian belakang bak pedati. Bersandar pada papan menyanggah tumpukan padi yang berkarung-karung banyaknya. Ia terus memandangi segala yang ditinggalkan.
Ia menahan napas.
Derak kayu bak pedati makin berisik dan keras bunyinya. Tumpukan padi itu sedikit berayun. Seperti mau runtuh. Pedati bagai mau patah.
Tentu. Tentu saja pedati itu berderaknya kuat sekali karena beban yang ditanggungnya tidaklah sedikit. Di atas bak itu ada beberapa karung padi yang tumpukannya melebihi tinggi bak. Padi yang hendak dibawa ke Balaiselasa. Sebab, di sana perputaran uang jual beli beras lebih cepat dibanding dengan Painan. Jadi begitulah seorang pedagang mengharapkannya sehingga Balaiselasa menjadi salah satu tempat pilihan yang memenuhi syarat bagi si tukang pedati tersebut.
(lagi…)
