ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

lama aku tak menjemputmu dengan kuda ini.
kuda yang dulu bising derapnya dikalahkan oleh gedebar jantungku
ketika hendak menjemputmu yang bermenung
di batas rindu dan sepi yang memburu

disini pernyataan dendam tak dibiarkan padam
untuk itu aku meniup-niup perang sepanjang jalan
tentu kau tak akan buka tongkat pintu itu jika bukan aku yang mengetukmu
pula jangan suratkan lagi airmata bila darah saja yang bisa kubaca

aku sering alpa mendetak jantung yang mempigurakan namamu
karena demikian penuh aku dianiaya waktu
“kita perlu membangun jembatan” katamu agar kita selalu bertaut jalan
agar kudaku di pintumu selalu datang mengeram
agar dengan jarak kita tak selalu bermusuhan

tapi telah lama aku tak menjemputmu dengan kuda ini
di dalamku derunya kini amat lain. gamangkan aku untuk kembali
merumahkanmu di hati
demikian akan aku bisikkan padamu
bila kelak kudaku tak juga datang mengeram
hanyutkanlah segenap abu kenangan

Ruangsempit, 2008