ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]
lama aku tak menjemputmu dengan kuda ini.
kuda yang dulu bising derapnya dikalahkan oleh gedebar jantungku
ketika hendak menjemputmu yang bermenung
di batas rindu dan sepi yang memburu
disini pernyataan dendam tak dibiarkan padam
untuk itu aku meniup-niup perang sepanjang jalan
tentu kau tak akan buka tongkat pintu itu jika bukan aku yang mengetukmu
pula jangan suratkan lagi airmata bila darah saja yang bisa kubaca
aku sering alpa mendetak jantung yang mempigurakan namamu
karena demikian penuh aku dianiaya waktu
“kita perlu membangun jembatan” katamu agar kita selalu bertaut jalan
agar kudaku di pintumu selalu datang mengeram
agar dengan jarak kita tak selalu bermusuhan
tapi telah lama aku tak menjemputmu dengan kuda ini
di dalamku derunya kini amat lain. gamangkan aku untuk kembali
merumahkanmu di hati
demikian akan aku bisikkan padamu
bila kelak kudaku tak juga datang mengeram
hanyutkanlah segenap abu kenangan
Ruangsempit, 2008

November 9, 2008 at 2:40 pm
sudahlah kuburkan niatmu teman! jadilah saudagar
November 28, 2008 at 6:25 am
bang arif,kok adx jadi sedih bacanya..kaya na pernah ngerasain deh…he..hee..btw, pengalaman bang yae..kya perpisahan geto..pengen nangis lah…hu..hu..merana kali rasanya idup ne, ketika kuda putih tak datang menjemput…
November 29, 2008 at 11:24 am
thx adx, di ruangsempit ini kita boleh kok menangis berjamaah, nangis aja klo puisinya memang sedih..hehe…tapi juga boleh muntah, klo blog ini bikin mules..heheh
Desember 2, 2008 at 11:40 am
mungkin saja sudah ada kuda lain, yang telah membuatklan nya jembatan….
piluuu….puisi prol mah…
tapi bukan air mata yang menjawab na, sebuah pertanyaan hadir dendam seperti apa yang tak boleh padam??
Desember 13, 2008 at 6:50 am
di ruangsempit adx belom pernah nangis bareng bang…abiz abg2 na pada tangguh smua…heheh…malu kan kalo nangis pi gak ikut partisipasi abg yang laen…hihi…
oya..kak tia dendam yang kaya mana ya kak yang gak bole padam? ini kale kak,’agar dengan jarak kita tak selalu bermusuhan’ (kuitpan epilog kuda putih).