Oktober 2008


RioSY
[ Dimuat di Lampung Post, 12 Oktober 2008 ]

IA duduk berjuntai kaki di bagian belakang bak pedati. Bersandar pada papan menyanggah tumpukan padi yang berkarung-karung banyaknya. Ia terus memandangi segala yang ditinggalkan.
Ia menahan napas.

Derak kayu bak pedati makin berisik dan keras bunyinya. Tumpukan padi itu sedikit berayun. Seperti mau runtuh. Pedati bagai mau patah.

Tentu. Tentu saja pedati itu berderaknya kuat sekali karena beban yang ditanggungnya tidaklah sedikit. Di atas bak itu ada beberapa karung padi yang tumpukannya melebihi tinggi bak. Padi yang hendak dibawa ke Balaiselasa. Sebab, di sana perputaran uang jual beli beras lebih cepat dibanding dengan Painan. Jadi begitulah seorang pedagang mengharapkannya sehingga Balaiselasa menjadi salah satu tempat pilihan yang memenuhi syarat bagi si tukang pedati tersebut.
(lagi…)

ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

lama aku tak menjemputmu dengan kuda ini.
kuda yang dulu bising derapnya dikalahkan oleh gedebar jantungku
ketika hendak menjemputmu yang bermenung
di batas rindu dan sepi yang memburu
(lagi…)

;semalam ada yang menikam tuhan

ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

pada angan yang penuh gerombolan onta-onta tua yang berlarian,
ia menikam-nikam dadanya yang menyimpan junjungan
maka dengan senyala kobaran dendam
ia ukur panjang pedang
hari-hari pencarian adalah hari-hari pelarian. demikian sesuatu tertanam
pada hati yang tak simpan takaran
(lagi…)

ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

karena setiap hari kudapati orang-orang berlarian
di atas angin
sedang aku sungguh padu berakit-rakit menuju hulu
meski nasib yang menggenang,
tak jua berenang ke tepian
(lagi…)


ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

jika kau ada berkesempatan
bermadianlah dengan hujan yang menerpa ruangku
maka kita akan memiliki mata yang sama
-dengan demikian pandang kita tiada akan berbeda
(lagi…)

ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

maka akan aku selesaikan seluruh arca
lalu kubuatkan sebentang danau lengkap dengan pulau
beserta perahu berujung kepala naga
dan sepuh batu pualam di tepiannya
;dalam sekedip saja
(lagi…)

ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

seperti sebuah surat lama, kau akan membacaku sebagai himpunan kata
yang mudah membawa tawa. hingga pada sepenggal hari yang penuh ragam,
kau ceritakan tentang muasalku yang haru biru
sejarah yang sepenuhnya abu
(lagi…)

ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

lalu kau menggaris sebentang tanah lapang
kemudian membangun rumah mungil, kolam ikan kecil, dan ladang
yang berkerikil
“rumah paling rahasia, tempat sebuah keluarga di masa tua”
kau sempat juga memelihara itik-itik yang berkandang tepat di samping rangkiang
yang menyimpan padi yang tiap butirnya adalah kenangan
(lagi…)

Rio SY
[ Harian Singgalang, 12 Oktober 2008 ]

Kemudian segala sesuatu yang “lebih” telah membuat manusia menjadi bangga, bahkan jatuh pada lubang yang bernama kesombongan. Misalnya harta yang lebih banyak, kedudukan yang lebih tinggi, kemampuan yang lebih baik. Lalu muncul eforia tersendiri dalam dirinya dan seringkali diungkapkan dengan rasa bangga, bahkan berlebihan. Kebanyakan orang menyebutnya “sombong”. Sedangkan kesombongan itu sendiri mengacu pada kebanggan yang berlebihan.
(lagi…)

AdekDDS

Tak pernah lagi kusisiri rambut ini
Sebab setiap kali ku jamah uban rontok berserakan
Aku makin tua dan hampir musnah
Cermin gambarkan bayang mukaku
Mencoba tersenyum, tak bisa,
Sia-sia
(lagi…)

Halaman Berikutnya »