September 2008


RioSY
badai terbuka tetapi nafas membisu
tak kumengerti ke mana sesatnya
tak terjeritkan kesiur angin dari laut berkepusu
membahasakan baganbagan karam yang benam:
terlampau dalam. terlampau rahasia
(lagi…)


RioSY

(Padang Ekpress, 12 Ot 2008)

    sengaja rumah ini kuberi jendela
    hanya supaya bila hujan mendera
    kau bisa menatap urai awan meremah
    (lagi…)

    : f. y.

    RioSY
    teh yang tinggal seteguk itu kita seruput
    kuharap tiada kau habiskan
    biar manis gula menjadi bancah
    abadi dalam cangkir terbuka
    (lagi…)

    Eka

    Pagi yang hilang kutemukan di senja matamu
    Juga sepasang sepi yang riang bermain dengan mimpi
    Sayang izinkan aku sebentar mengangakan lukaku
    Aku ingin sepi dulu
    Sebelum keranda keparat itu menghantar kepergianku
    Ku ingin cecap dulu mimpimu
    Sebelum kafan sialan itu membungkus tidurku
    Sayang izinkan aku memasuki lorong matamu

    Pekan baru, 14 September 2008

    FadlyAkbar

    If you got what you want
    But not what you need
    (Coldplay, Fix You)

    Jean Baudrilard, seorang posmodernist perancis, dalam pemetaan keilmuannya yang provokatif terhadap kajian-kajian sosiologi memperlihatkan bagaimana analisis sistem produksi Marxisme atas konstruksi relasi sosial dalam kapitalisme muthakir sudah menjadi kurang relevan. Dalam keberlangsungan roda kapital itu Baudrilard lebih melihat bagaimana sistem konsumsi lebih mendapatkan tempat utama dalam mereproduksi lapisan masyarakat. Hal ini, salah satunya, muncul atas sebuah transformasi dalam cara masyarakat menerjemahkan atau memaknai defenisi kebutuhan, setelah dalam proses konsumsi melahirkan apa yang ia sebut sebagai sistem kode. Artinya, dalam kapitalisme lanjut masyarakat tidak membeli apa yang mereka butuhkan, akan tetapi membeli apa yang kode sampaikan pada mereka tentang apa yang seharusnya dibeli. Sederhananya, manusia tidak membeli apa yang mereka butuhkan, melainkan membeli apa yang mereka inginkan (tentunya setelah proses pengkodean itu beroperasi).
    (lagi…)

    Rio SY

    Aku belum terlampau lelap, sehingga, lagi-lagi suara erangan yang teramat pilu itu bisa kudengar. Walau tak begitu sempurna tetapi cukup untuk membuatku tersintak di tengah malam. Mendadak ada kecemasan yang harus kubayar dalam diriku. Suara apa gerangan yang mengerang sedemikian pilunya.

    Aku mulai menyusun perkiraan, dengan anggapan-anggapan sementara. Selalu saja muara perkiraan itu sampai pada anggapan bahwa erangan itu adalah suara orang yang sedang terbunuh, sedang diregang maut. Suara kesakitan yang amat dalam. Apalagi namanya jika bukan pembunuhan yang menyisakan suara sepilu itu. Bahkan derap langkah kaki yang terdengar aneh, dan suara-suara dengan perkataan menakutkan itu semakin memperkuat dugaanku.
    (lagi…)


    Rio SY

    (Padang Ekspress, 31 Agustus 2008)

    IA menengadah. Lagi. Ditatapnya lengkung bulan yang tampak seperti perahu putih yang tengah berlayar di langit. Telah berkali-kali bulan perahu terpajang di malamnya langit dan berkali-kali itu pula ia menatapnya. Bulan inilah yang dulu menyambut kedatangannya untuk pertama kali di Muarosakai ini. Dulu, seperti ini pula ia menengadah ketika baru saja menginjakkan kaki di sini. Dan bulan perahu ini juga yang sedang menyambutnya kembali.

    Sepelemparan batu dari tempat ia berdiri ada sebuah pondok di tepi jalan, bentuknya panggung tanpa pintu dan jendela pada keempat sisinya. Pondok itu sebenarnya berada di antara pinggir sawah dan pinggir jalan. Ia mendekat ke sana. Sebentar ia tertegun, sebab di pondok itulah ia singgah waktu pertama kali datang dulu.

    Dulu.
    (lagi…)


    Andika Destika Khagen

    Secangkir kopi, segelas air putih, sepotong roti, dan menunggu cahaya melewati kabut, kuulangi setiap pagi di teras rumah yang rimbun. Cakap burung kudengar tanpa risau. Ini pagi tenang, ketika embun-embun tak lagi bersembunyi di balik dedaunan. Istriku terbangun jauh sebelum suara azan menggema dari masjid di belakang rumah. Aku terbangun, tak lama setelah ayam jantan berkokok. Ah, istriku sadar betul, di teras rumah telah disediakannya secangkir kopi, sepotong roti, segelas air putih, menemani pagi.
    (lagi…)

    FadlyAkbar
    “Tontonan-tontonan sekarang betul-betul sudah sangat kurang ajar. Bayangkan, baru bangun tidur kita sudah disuguhkan tentang perceraian artis yang tidak ada hubungan darah dengan kita dan juga tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi keberlangsungan kesuksesan kehidupan kita di masa akan datang.” Begitulah kurang lebih guyonan Andan, mentor dari ruang rupa dalam sebuah diskusi workshop yang digagasi oleh komunitas seni Belanak 28 Agustus ini. Lalu ia menterjemahkan selorohnya itu untuk 2 orang mentor asing dari Engagemedia Australia, Anne Helmet dan Andy Nicholson (Andycat). Dan merekapun ikut tertawa.
    (lagi…)

    « Halaman Sebelumnya