DeviKurniaAlamsyah
Sesak sekali disini. Di waiting room ini, semua orang berjejalan menunggu maskapai penerbangan mereka masing-masing. Ada yang berdiri dan ada yang duduk sambil menonton acara televisi. Ada yang asyik menekan tombol-tombol handphone dengan lincahnya memberi kerabat pesan elektronik singkat. Ada bapak berbaju safari yang berbicara seakan ingin semua yang hadir disana tahu bahwa ia baru saja menang tender milyaran. Beberapa orang terlihat cemas sambil sesekali melirik jam di pergelangan kirinya, di-delayed lagi pesawatnya mungkin pikirku. Sedang aku berdiri mantap di tengah ruangan seraya menatap layar monitor yang tergantung di dinding. Aku mencoba pahami huruf-huruf dan angka-angka di layar monitor itu sambil mematut tiket pesawatku. Setengah jam lagi pesawatku baru landing tampaknya.
Seorang nenek berjalan pelan seraya meminta jalan di depanku. Aku spontan mundur selangkah. Tak kusadari ternyata ada tas terinjak. Aku oleng dan terjatuh terjerembab menimpa seseorang dibelakangku.
”Maaf uda, tak sengaja,” sahutku.
Matanya yang membesar memberitahuku ia tak senang. Tak tahan menanggung malu dan menyadari telah menjadi pusat perhatian aku pun melangkah sedikit berlari menuju sudut kiri ruangan. Ke toilet. Ku basuh mukaku sambil menatap diri di cermin. Aku tinggalkan juga kota ini akhirnya, batinku. Tujuh tahun kubutuhkan untuk menyelesaikan masa studi S1 dan itu bukan waktu yang sebentar buatku. Habis hariku merutuk dalam hati kapankah saatnya tiba. Antara malu dan bahagia bercampur jadi satu. Antara tangis dan tawa mengabur lebur dalam harapan esok hari mungkin lebih baik. Seharusnya. Ya, bukanlah beratus-ratus hari menjelang wisuda yang kutakutkan melainkan satu hari sesudah wisuda aku ini mau apa. Letih sudah raga ini bertarung mempertaruhkan hutang wisuda buat orangtuaku dan akhirnya tunai sudah janji itu bulan lalu. Dan aku berterima kasih padaNya ketika kesempatan itu akhirnya datang walaupun sebenarnya hati ini masih galau. Esok masihlah teramat kabur.
Teringat olehku sebuah koran lokal semester lalu mencatat bahwa ada sekitar lima puluh ribu mantan mahasiswa di daerahku yang masih menganggur. Sementara tahun ini ada sekitar enam ribu lagi mahasiswa yang diwisuda. Akankah ku bergabung dengan mereka dalam statistik yang memalukan dan memilukan ini? Angka yang menurutku akan semakin membuat pemerintah kelabakan untuk membuka banyak lapangan pekerjaan sehingga setiap tahun yang dipikirkan itu semestinya bukanlah minoritas PNS yang diterima tapi puluhan ribu yang tidak diterima ini mau diapakan? Haruskah kita menggadaikan tanah air ini lagi demi sejumput investasi internasional? Masih belum cukup mampukah negara ini untuk hidup mandiri tanpa berhutang? Entahlah. Jumlah statistik ini pun tanpa diragukan memiliki konsekuensi terhadap meningkatnya kriminalitas di kemudian hari.
Entah kenapa dulu aku bisa percaya dengan perkataan para elit dunia pendidikan yang mengatakan bahwa mahasiswa adalah tenaga kerja siap pakai tapi toh buktinya sangat berbanding terbalik. Hanya sedikit dari banyak orang yang ku kenal telah diterima bekerja di tempat yang layak dan mampu untuk bisa hidup mapan. Lucunya, semua orang bercita-cita menjadi PNS saat ini. Mungkin karena dianggap lebih aman daripada kerja dengan sistem kontrak di perusahaan swasta. Tapi butakah matamu kawan? Lihatlah kerumunan wajah-wajah yang sama setiap tahunnya selalu mencoba peruntungan dengan fresh graduators yang di malam sebelumnya mereka semua berdoa yang sama di hadapan Tuhan sehingga keesokan harinya Sang Khalik pun bingung untuk memilih yang mana. Lihatlah jumlah pelamar tak pernah sebanding dengan yang diterima! Aku tersenyum miris menahan pedih melihat kondisi ini. Mungkin anda Prabowo, Wiranto, SBY atau siapapun anda yang berniat berkuasa, tolonglah jangan selalu jadikan kemiskinan dan kelaparan menjadi kebodohan akut yang mesti selalu dijaga dan dilestarikan. Jangan jadikan ini sebagai komoditi kampanye kalian. Kami semua manusia bukan data statistik untuk meminta hutang lagi dari Bank Dunia.
Setiap tahun standar dunia kerja selalu ditingkatkan. Dari diploma harus menjadi sarjana dan begitu seterusnya. Bahkan untuk jadi presiden di negara ini kamu mesti jadi sarjana. Kasihan Megawati tak bisanya dia meneruskan hobi jadi presiden lagi pikirku. Atau ini hanya taktik lawan politiknya saja untuk mengurangi jumlah kompetitor yang dirasa unqualified? Entahlah. Aku tak tertarik dengan dunia politik tapi tak tertutup kemungkinan aku akan berpolitik. Kelak. Mungkin.
Tiba-tiba ada yang bergetar di saku kiri celanaku. Handphone-ku menyalak melantunkan sepotong alunan gubahan Bach. Seseorang yang memiliki hati ini menelponku. Aku berjalan keluar toilet sambil merogoh saku celanaku.
”Halo sayang, udah di dalam ya?” terdengar suara di ujung sana.
”Udah, kayaknya pesawatku di-delayed sekitar setengah jam lagi,” rutukku.
”Ya udah, sabar ya sayang ya,” sahutnya menenangkanku.
Tercenungku mendengar suara dedariku ini. Ia lah alasan terlogis dan terbesar bagiku untuk meninggalkan Kota Tercinta ini. Aku sangat mencintainya dan menurutku meninggalkannya, untuk saat ini, adalah pilihan yang sangat tepat. Suaranya itu. Suara yang selalu berhasil menjadi penyejuk kala hati ini gundah. Jika diingat telah banyak juga yang kami lalui. Telah berjuta tawa kami lewati bersama. Segala sedih telah pula kami tangisi bersama. Tapi tak selamanya kami bisa menertawakan hidup. Saat ini hidup membuatku mesti mencari penghidupan itu sendiri. Saat itu akhirnya tiba.
Ada pernah kubaca di sebuah majalah katanya bagi seorang pria umur 27 adalah momen terpenting dalam hidupnya. Ia harus membuat keputusan yang akan sangat berpengaruh sampai dengan akhir hidupnya. Angka keramat itu adalah umurku tahun depan dan inilah keputusan awalku. Aku mesti mengejar kemapanan untuknya. Untuk kami. Sudah kuputuskan untuk berangkat ke Jakarta, ke kota dimana berjuta pemuda bermimpi mampu menaklukkan congkak dan angkuhnya ibukota. Ketika saat itu tiba, ku kan pulang untuk meminangnya dan kujadikan singgasana cinta terindah untuknya kelak. Sebuah peraduan yang nyaman akan kubuat sebagai sumpah atas segala penantian panjang yang melelahkan. Sebuah angan yang tak sabar ingin kugapai segera. Sebuah mimpi pemuda tengik yang terlalu indah namun layak untuk diperjuangkan.
Tapi bagaimana jika aku kalah di ibukota? Bagaimana jika aku tak pernah kembali seperti perantau miskin yang malu untuk pulang ke kampung? Bagaimana jika keberuntungan tak jua memihakku? Bagaimana jika tragisnya kehidupan urban menyeretku ke lembah terkelam dan aku tak bisa kembali? Bagaimana jika nanti ada seorang remaja menusukku dari belakang untuk mengambil isi dompetku yang tak seberapa? Bagaimana jika mimpi tak seindah kenyataan? Ketakutan-ketakutan ini yang selalu menjadi momok yang menohokku dari belakang, memintaku untuk mengaku kalah justru ketika perang itu belum lagi dimulai.
”Sayang, kamu hati-hati ya disana,” suara diujung sana membuyarkan lamunanku. Suara itu memelan. Aku tahu kamu sedih. Aku membayangkan wanitaku mencari tisu didekatnya untuk airmata yang jatuh tak terbendung.
”Mohon doanya ya. Semoga ini keputusan yang tepat. Kamu sabar ya sayang,” luluh sudah jumawaku, Rahwana, ketika Shinta menampakkan bilur tangisnya. Aku memang tak pernah tahan melihat air mata. Dulu, ketika Shinta masih bersama Rama sering kulihat kemuraman di matanya. Sejak itu aku bersumpah kepada semesta bahwa takkan letihku untuk bisa melihat Shinta bahagia. Rama tak pantas memperlakukan dedariku seperti ini. Telah kurebut cinta Shinta darinya dan akan kubuktikan pada dunia akulah Rahwana, tokoh yang dikonstruksi menjadi antagonis pewayangan tanpa sekalipun meminta persetujuanku, yang paling berhak membahagiakan Shinta. Akan kurubah cerita sialan itu yang telah menyudutkanku ke jurang nista. Rama-lah penjahat sesungguhnya yang meragukan kasih Shinta. Dan sialnya ku cium bau nafasnya yang penuh amarah di ruangan ini. Kurasakan panas dendam sepasang mata yang menatapku tajam dari kejauhan. Ia tak pernah menyenangiku sejak hari itu. Sejak dewi khayalannya menjadi milikku.
Kulihat ia, yang masih mencoba memperlihatkan kegagahannya dalam balutan jubah penuh tanda kemenangan, menatapku dengan sudut matanya. Lihatlah, betapa piciknya mata itu. Mata yang tak terima akan kalah. Untuk apa setiap peperangan kau menangkan jika Shinta tak kan pernah menyambutmu ketika kau pulang? Ha ha ha. Aku telah telak mempecundangimu dan lihatlah kelak kan kubuktikan sumpahku.
Sialnya, kekasih yang memiliki hati ini, akan kutinggalkan sekota bersamanya. Sungguh sial. Tapi tak apalah. Toh kami, Rahwana dan Shinta, telah berjanji untuk saling setia. Akan kuukur tingkat kecintaanku kepadanya justru dari jauh. Kupercayakan dan kutinggalkan hatiku di kota ini. Dan kau, Rama, enyahlah pikirmu akan Shinta.
”Kamu jangan lupa shalat dan berdoa ya disana. Berdoalah kepada Sang Pemilik Alam semoga qadaNya tercurah memberi rahmat dan jangan lupa untuk bersyukur ya sayang,” suara itu berbisik lembut menusuk otakku membawaku kembali ke bumi.
Oh lagi-lagi dia menyadarkanku akan betapa beruntungnya aku memilikinya. Terimakasih Ya Rahman Ya Rahim telah Kau kirim satu malaikat berwujud manusia untuk menyempurnakanku. Bersamanya nanti akan kuarungi sunahMu. Amin.
Sebuah panggilan menyadarkanku untuk segera masuk ke dalam pesawat. Dengan sedikit tergesa-gesa kutarik tubuh gempal ini menghampiri pintu boarding. Ada Rama disana. Menungguku dengan panah yang siap menghujam dadaku.
”Sayang, aku ke pesawat dulu ya,” sengaja kukeraskan suara ini biar ada yang mendengar. ”Nanti kalau sudah di Jakarta ditelpon lagi. Kamu jaga hati ini ya cintaku. Bye.” Handphone kumatikan setelah kupastikan Rama terlewati lalu kumasukkan kembali ke saku celana. Oh lihat, bibirnya seperti tersenyum. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
Kutarik nafas dalam-dalam. Kudekap tas berisi ijazah ini dengan harapan semua akan berakhir bahagia layaknya sinetron picisan di tivi. Bismillah.
Padang, 17 September 2008

Oktober 1, 2008 at 3:16 pm
hidup sutradara muda!!!
Oktober 9, 2008 at 5:42 am
the war is on
Oktober 10, 2008 at 1:11 pm
pikiran yang menggabungkan dua ideologi yang berbeda…bole adx tahu maksud penulis atau b’devi nampilin islam dan hindu?kayana, pada satu sisi ada aliran kak abik, dan di sisi lain ada kahyangan geto….
Oktober 19, 2008 at 7:41 am
untuk adx, ini hanya sebuah kata pengantar di sebuah skripsi. jadi tak ada maksud selain menyindir diri sendiri. saya pendukung pidi baiq dalam front pembela islam kristen hindu budha.