RioSY
(Padang Ekpress, 12 Otk 2008)
lambai tangan ataukah pelukan yang kita
dapatkan di stasiun. tempat airmata
sering tumpah. bagai gelas di senggol rebah
tempat orangorang menjelang penantian
kembali dan pergi
panjang rel melintas kelana
mendekap malam yang memekat di kaca jendela
senyummu mekar di dalamnya
sepanjang jalan, sepanjang perbincangan
berbagai hal di jendela luar
melintas saling berkejaran
seperti mata kita yang hendak bertatapan
nanti alur ini akan lunas. malam terlepas
kita terbelah. kau ke utara dan aku ke selatan
menambah kembara yang sempat mengendap
kita tak akan kehilangan apaapa kecuali pertemuan
hari lain ingin mengembalikan semua
ke stasiun menjelang penantian
kereta malam itu kembali
kau duduk di bangku tunggu
atau aku yang tengah terlelap lusuh
di bangku itu
(RuangSempit, 2008)
