RioSY
(Padang Ekpress, 12 Ot 2008)
Kau yang meminta pulang
ketika panjang jalan tak terpintal
burung kian terbang. mencari angin berkabar
tak kuucapkan selamat tinggal
ketika pelukan berlepasan
kau ingin berucap selamat datang
meski aku telah mengepak sayap
melambaikan tangan pada kubangan
sebuah kediaman yang sampai saat ini
tak kau tutup lumpurnya
umpama menutup pintu dan jendela
tapi sayap gugur satupersatu
dada terbelah
angin menderukan buruk cuaca
kita terlalu pasi untuk sebuah yang pekat
sebelum malam kembali menjadi waktu
merebahkan tidur yang sansai
(RuangSempit, 2008)
