Posted by ruangsempit under
cerpen Leave a Comment

Rio SY
Aku belum terlampau lelap, sehingga, lagi-lagi suara erangan yang teramat pilu itu bisa kudengar. Walau tak begitu sempurna tetapi cukup untuk membuatku tersintak di tengah malam. Mendadak ada kecemasan yang harus kubayar dalam diriku. Suara apa gerangan yang mengerang sedemikian pilunya.
Aku mulai menyusun perkiraan, dengan anggapan-anggapan sementara. Selalu saja muara perkiraan itu sampai pada anggapan bahwa erangan itu adalah suara orang yang sedang terbunuh, sedang diregang maut. Suara kesakitan yang amat dalam. Apalagi namanya jika bukan pembunuhan yang menyisakan suara sepilu itu. Bahkan derap langkah kaki yang terdengar aneh, dan suara-suara dengan perkataan menakutkan itu semakin memperkuat dugaanku.
(lagi…)
Posted by ruangsempit under
cerpen Leave a Comment

Rio SY
(Padang Ekspress, 31 Agustus 2008)
IA menengadah. Lagi. Ditatapnya lengkung bulan yang tampak seperti perahu putih yang tengah berlayar di langit. Telah berkali-kali bulan perahu terpajang di malamnya langit dan berkali-kali itu pula ia menatapnya. Bulan inilah yang dulu menyambut kedatangannya untuk pertama kali di Muarosakai ini. Dulu, seperti ini pula ia menengadah ketika baru saja menginjakkan kaki di sini. Dan bulan perahu ini juga yang sedang menyambutnya kembali.
Sepelemparan batu dari tempat ia berdiri ada sebuah pondok di tepi jalan, bentuknya panggung tanpa pintu dan jendela pada keempat sisinya. Pondok itu sebenarnya berada di antara pinggir sawah dan pinggir jalan. Ia mendekat ke sana. Sebentar ia tertegun, sebab di pondok itulah ia singgah waktu pertama kali datang dulu.
Dulu.
(lagi…)