Posted by ruangsempit under
cerpen [4] Comments

DeviKurniaAlamsyah
Sesak sekali disini. Di waiting room ini, semua orang berjejalan menunggu maskapai penerbangan mereka masing-masing. Ada yang berdiri dan ada yang duduk sambil menonton acara televisi. Ada yang asyik menekan tombol-tombol handphone dengan lincahnya memberi kerabat pesan elektronik singkat. Ada bapak berbaju safari yang berbicara seakan ingin semua yang hadir disana tahu bahwa ia baru saja menang tender milyaran. Beberapa orang terlihat cemas sambil sesekali melirik jam di pergelangan kirinya, di-delayed lagi pesawatnya mungkin pikirku. Sedang aku berdiri mantap di tengah ruangan seraya menatap layar monitor yang tergantung di dinding. Aku mencoba pahami huruf-huruf dan angka-angka di layar monitor itu sambil mematut tiket pesawatku. Setengah jam lagi pesawatku baru landing tampaknya.
(lagi…)
Posted by ruangsempit under
puisi 1 Comment

Eka
di sini ada keranda menunggu mati
ada kafan mau membungkus sepi
ada mata menyimpan puisi belum jua terpemi
ada janji dalam kata, entah sampai kapan bisa dibukti
Pekanbaru, September 2008
Posted by ruangsempit under
cerpen Leave a Comment

Andika Destika Khagen
Aku pantas marah, entah kepada siapa. Oh, lihat, sudah dua jam aku duduk di mobil, menghabiskan satu bungkus rokok, dua bungkus es jeruk. Hari memang panas, namun di dalam mobil ini jauh lebih panas. Kenapa mesti siang-siang begini aku mesti terjebak dalam kemacetan? Sudah dua jam, baru dua kali gas bisa kuinjak, itu pun hanya perlahan. Sangat perlahan. Ada sekitar 30 mobil lagi yang berada di depanku. Telah kuhitung, hanya ini pekerjaan yang bisa mendamaikanku dalam keadaan begini, aku berada diurutan ke-31 di belakang mobil truk. ”tit…..tit..tit..” Entah dari mobil mana, tiap sebentar klakson berbunyi. Walau semua yang berada dalam kemacetan ini sadar tak mudah lepas dari derita ini.
(lagi…)
Posted by ruangsempit under
puisi Leave a Comment

RioSY
apa yang kumiliki selain diriku
gambar tiga lingkaran bulan
wajahmu, ibumu, dan aku
warnawarni pensil menjadi hamparan kuning sawah
tumbuh sebatang pohon jambu
angin menyentuh buah merahnya
seorang ibu lagi tersenyum
memetik dagu, mencubiti pipimu
genang air seperti linangan. mungkin karena hujan
di atasnya perahu kertas meriak kedalaman lubuk
di sana aku tenggelam sebagai pendendam
demi merebut cintamu dari istriku
(RuangSempit, 2008)
Posted by ruangsempit under
puisi Leave a Comment

RioSY
kian tumbuh dalam semedi banyak orang
yang berkain hitam mari debus kita gelar
(lagi…)
Posted by ruangsempit under
puisi Leave a Comment

RioSY
(Padang Ekpress, 12 Otk 2008)
lambai tangan ataukah pelukan yang kita
dapatkan di stasiun. tempat airmata
sering tumpah. bagai gelas di senggol rebah
tempat orangorang menjelang penantian
kembali dan pergi
(lagi…)
Posted by ruangsempit under
puisi Leave a Comment

RioSY
sebelum perahu itu tiba
perahu tamasya tak berpenumpang itu
lepaskan aku berlarilari telanjang
bersoraksorai. berenang di cebur laut
mengucapkan salam
pada kapal yang bertolak dan menepi di pelabuhan
menghitung petipeti ikan hasil tangkapan semalam
lantas diusir nelayan-marah,
tapi kubalaskan dengan membuat
perahu dari sobekan kertas
lalu kulayarkan dalam dendam
(RuangSempit, 2008)
Posted by ruangsempit under
puisi Leave a Comment

RioSY
(Padang Ekpress, 12 Otk 2008)
bolehkah kubentangkan ranji itu, bu?
membaca tumbuhnya pohon silsilah
merasa asing pada tanah berkabut
(lagi…)
Posted by ruangsempit under
puisi Leave a Comment

RioSY
(Padang Ekpress, 12 Ot 2008)
Kau yang meminta pulang
ketika panjang jalan tak terpintal
burung kian terbang. mencari angin berkabar
(lagi…)
Posted by ruangsempit under
puisi Leave a Comment

RioSY
adalah :
pungguk yang mesti merindu
bila malam tiba sebuta peta
meraba kelam yang menutup mata
mencari rute perjalanan waktu
sebagaimana meninggalkan ragu
di tempat kisah bermula
yang disebutsebut bunda
di antara belahan luka
(lagi…)