Arif Rizki

Ketika masa kejayaan Islam dipimpin oleh khalifah Harun Al-Rasyid, sastra lisan cukup mendapat tempat yang terhormat bagi masyarakat. Banyak penyair-penyair diundang ke istana untuk memberikan nasihat-nasihat serta pemikiran cemerlang yang inspiratif sekaligus menghibur. Ketika itu Harun membina suatu hubungan karib dengan seorang pencerita yang bernama Bahlul. Ia merupakan pencerita yang sangat disenangi oleh baginda raja, sehingga ia leluasa masuk-keluar istana sesukanya. Suatu siang Bahlul berkunjung ke istana untuk menemui Harun Al-Rasyid. Ketika ia tiba di istana, ia tidak menemukan siapapun  di balairung. Barangkali baginda dan para pengawalnya sedang makan siang dan beribadah, pikirnya.

Untuk mengusir kejenuhannya, Bahlul berjalan-jalan di istana untuk sekedar melihat-lihat. Kemudian pandangannya tertumpuk pada sebuah kursi raja yang sedang kosong. Menyaksikan itu terlintas dipikiran Bahlul untuk mencoba duduk di atas singgasana yang empuk dan megah itu. Belum sampai dalam hitungan menit, seorang pengawal yang datang dari luar menghardiknya. Kemudian segerombolan pengawalpun berdatangan dan memukuli Bahlul tanpa ampun. Seketika suasana istana menjadi rusuh. Baginda yang mendengar kegaduhan dari arah balairung itu langsung bergegas menuju istana dan mendapati Bahlul sedang dipukuli oleh para pesuruh raja. Maka bagindapun bergegas menghentikan kericuhan itu sebelum Bahlul ditimpa hukuman yang lebih berat lagi.

”Ada masalah apa disini? Mengapa kalian memukuli orang kesenanganku?” tanya baginda setelah memerintahkan pengawalnya untuk mengentikan pemukulan terhadap Bahlul.

”Orang ini telah lancang duduk di atas singasana, Yang Mulia.” jawab salah seorang pengawal.

”Apa benar yang ia katakan itu, Bahlul?” bagindapun bertanya kepada Bahlul yang tampak babak belur.
”Benar, yang mulia.” jawab Bahlul sederhana.

”Kenapa kau berani-beraninya duduk disana tanpa seizinku?” desak baginda raja.

”Saya hanya mencoba-coba saja, Yang Mulia. Untuk merasakan betapa nikmatnya singasana itu.

Tetapi saya yang hanya duduk sebentar saja mendapat hukuman yang begini beratnya. Para pengawal baginda memukuli saya hingga babak belur hanya  karena saya duduk disana beberapa detik saja. Lalu bagaimana dengan baginda yang telah duduk disana setiap hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Hukuman macam apa yang harusnya baginda terima?” ungkap Bahlul dengan  nada serius.

Mendengar penuturan Bahlul yang filosofis itu membuat baginda raja terharu kemudian menangis. Baginda raja kemudian meminta pendapat Bahlul supaya ia bisa terbebas dari hukuman berat yang dikatakan si pencerita kesenangannya itu.

”Raja harus berbuat baik setiap waktu, agar singgasana yang baginda duduki setiap waktu itu tidak sia-sia belaka.” ungkap Bahlul dengan wajah berseri-seri.Maka semenjak peristiwa itu baginda selalu meminta Bahlul memberikan pendapat-pendapatnya yang unik melalui cerita-cerita yang menarik. Sehingga siapapun akan punya alasan yang sama kenapa pemeritahan Harun Al-Rasyid termasuk pemerintahan yang cukup gemilang sepanjang sejarah. Sistem ekonomi yang mensejahterakan rakyat, pendidikan yang ditunjang oleh perpustakaan pertama dan terbesar, pertahanan negara yang kokoh, dan keadilan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Menciptakan Ruang Sadar Sastra
Mencermati cerita di atas, kesimpulan prematur yang dapat diambil adalah betapa seorang penguasa sekaliber Harun Al-Rasyid sangat mengapresiasi sastra (terlepas dari genre sastra itu sendiri) dalam realitasnya sehari-hari. Ia menjadikan nasihat-nasihat Bahlul yang merupakan seorang penyair sufi itu sebagai acuan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup yang menyulitkannya.  Dalam hal ini, ia melenyapkan perbedaan hirarki yang menjadi sekat antara penguasa dan pesuruh. Harun memandang nasihat Bahlul sebagai pendampingnya menuju sebuah titik yang bernama tujuan. Dan begitulah salah satu kerja sastra.
Dalam sebuah jurnal sastra, Boen S. Oemardjati (2006) mengungkapkan bahwa hakikat sastra adalah suatu dikotomi: menghadirkan dua kutub yang berlawanan, namun berada dalam tegangan yang dinamis. Penggerak utama dinamikanya adalah nilai. Jadi tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa sastra mengandung nilai-nilai luhur yang menggerakkan segala unsur yang ada dalam hidup. Terlepas dari kebenaran mutlak nilai-nilai tersebut, sastra berkekuatan untuk menggerakkan apresiator sastra menuju ruang-ruang dinamis baik bersifat personal, sosial maupun religius. Sehingga nilai-nilai yang menjadi muatan dalam karya sastra dapat menjadi sebuah panduan yang edukatif.

Sebenarnya kehidupan kita sehari-hari sudah tidak lagi dapat dipisahkan dari kesusatraan. Hal tersebut dapat dilihat dari penggunaan bahasa kiasan, ritual berpantun, slogan, atau medium verbal seperti surat cinta. Hanya saja kesemua itu dilakukan tanpa sadar di dalam ruang kekinian yang didominasi oleh materialisme dan konsumerisme. Oleh karena itu, kita patut meciptakan ruang sadar sastra yang bertujuan untuk membuka pikiran kita bahwa ada sebuah realitas yang dapat dilihat dari sudut pandang lain. Ruang sadar sastra itu sendiri dapat terwujud dengan cara mengapresiasi karya-karya sastra oleh setiap kalangan. Mengapresiasi dalam konteks ini tidak semata-mata bertujuan untuk menarik semua individu untuk terjun ke dalam dunia sastra itu sendiri dengan menjadi penulis puisi, cerpen, drama ataupun kritikus sastra yang menguasai sekelumit teori sastra. Akan tetapi apresiasi melalui ruang sadar sastra ini bertujuan untuk membangun pemikiran yang kritis (critical thinking) terhadap suatu hal. Sehingga setiap individu mampu dengan jeli melihat sesuatu permasalahan dari berbagai perspektif yang jauh dari kesan dangkal.

Adalah klise ketika masih terdapat banyak orang orang yang mempertanyakan fungsi sastra itu sendiri, sedangkan nama Inggris diharumkan oleh William Shakespeare, Amerika oleh Longfellow, India oleh Rabinranath Tagore, Jerman ada Goethe dan Indonesia sendiri ada Pramoedya Ananta Toer, Hamka dan lainnya.  Oleh sebab itu seyogyanyalah kita mencipta ruang sadar sastra tersebut, karena seperti yang dikatakan seorang pemikir Romawi, Horatius, ”Dulce et utile”, yang berarti bahwa sastra memiliki fungsi ganda. Yakni menghibur sekaligus bermakna. Sastra menghibur dengan cara menyajikan keindahan, bermakna terhadap kehidupan (kematian, kesengsaraan, maupun kegembiraan), atau memberi pelepasan ke ranah imajinasi.

Akan lebih baik jika ruang sadar sastra diapresiasi oleh semua kalangan pada umunya, dan oleh pemerintah khususnya, karena seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa sastra mempunyai kekuatan untuk mengasah critical thinking seseorang tak terkecuali bagi pemimpin yang belum tentu memilki critical thinking tersebut. Maka jika pemerintah ikut mengapresiasi sastra (bukan dalam bentuk materi seperti anggaran tiap tahun saja), tentu cara pikir bangsa kita lebih analitik, kritis dan tidak terjebak pada pola pikir yang skeptis dan monoton. Hal tersebut telah dicontohkan oleh figur Harun Al-Rasyid d iatas.

Akhirnya, sikap sadar sastra merupakan langkah awal menuju sikap dinamis dan kritis. Sikap kritis itu tentu diperoleh dengan apresiasi yang serius terhadap sastra itu sendiri. Dengan apresiasi yang serius itu kita bisa mengukuhkan budaya kita yang beragam ini, karena orang yang berbudaya (meminjam slogan Horison) adalah orang yang membaca sastra.