Euforia kemerdekaan menggema di seluruh negeri Indonesia. Bendera merah-putih berkibar penanda masih ada rakyat yang peduli pada arti kemerdekaan. Pada hari ini, Bung Karno disebut, Bung Hatta dipuja, dan pahlawan lain dikenang. Eforisme kemerdekaan menusuk sanubari. Ini hari untuk mengenang penjajahan kolonial yang menyakitkan dan meruntuhkan moral bangsa. Dalam lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan dengan khidmat, tertanam sebuah semangat untuk tidak lagi dijajah, apalagi ditindas.
Belanda yang menakutkan, Jepang yang tragis, tidak boleh terulang lagi. Intropeksi, mungkin salah satu jalan bangsa ini untuk berbenah. Penjajahan dari segala lini kehidupan, inilah semangat para pendahulu. Ada penderitaan untuk setiap jiwa yang tertindas. Jelas, semangat pelepasan dari penindasan sebagai manusia dan sebagai bangsa yang merdeka mesti terus diperjuangkan. Merdeka, kita mengenal semangat itu lebih dari 63 tahun yang lalu. Ketika di jalan-jalan protokol Batavia, pemuda-pemuda terbaik bangsa mengibarkan Merah-Putih tanpa takut dan semangat yang tak ingin terus dijajah. Kita menikmatinya hingga sekarang.
Namun, eforia kemerdekaan kita hari ini, tak hanya sebatas upacara di lapangan gubernuran dan perkantoran. Kita tahu, permasalahan besar bangsa ini adalah dalam tubuhnya sendiri. Warisan Kolonial yang paling kental adalah reduksi mental yang terbelakang. Ketika semua sistem yang dibangun dengan bijak dijalankan oleh tangan-tangan warisan kolonial. Generasi inilah yang hidup di usia Indonesia yang sudah semakin tua.
Negara ’Merdeka’
Seperti apa bentuk sebuah negara yang merdeka? Nietzhe, filsuf yang dikenal sebagai pemberontak terhadap kemapanan dan dogmatisme adalah salah seorang yang kecewa terhadap negara. Ia adalah salah seorang yang antinegara. Negara, katanya, adalah musuh akbar aktualisasi keakuan seseorang. Nietzhe tidak setuju dengan negara karena baginya negara merupakan kekuatan yang mengintimidasi orang supaya menjadi konformis. Nietzhe bukan hanya menantang negara, melainkan juga setiap bentuk penghormatan yang berlebihan terhadap negara. Singkatnya, leitmotiv hidup dan pemikirannya adalah seorang antipolitik yang berusaha untuk melakukan aktualisasi diri jauh dari dunia modern.
Dalam pencariannya, Nietzhe mengumumkan pemikirannya bahwa negaralah yang membuat individu tertindas, ditindas, dan bahkan tidak mampu mengembangkan dirinya. Negara mengekang individu untuk berkembang dengan pelbagai peraturan-praturan yang kadang tidak hanya mengikat, tapi juga mengekang. Konsep negara yang mengharuskan individu-individu untuk mematuhinya, bahkan dihukum ketika tidak mengikutinya, pada akhirnya membuat kebebasan sebagai individu yang merdeka kehilangan fungsi.
Ketertindasan ’akibat negara’ tidak hanya dirasakan Nietzhe. Begitu banyak kiranya yang kecewa begitu ia tahu punya negara dan berjuang untuk sebuah arti negara. Tan Malaka mungkin salah satu contoh. Ia seorang pejuang yang relevusioner dan begitu bangga terhadap negaranya. Makanya, pada tahun 1925 ia telah membuat sebuah konsep untuk negara dengan bukunya Naar de Republik (Menuju Republik). Sumbangan pikirannya lain begitu besar dan bearti bahkan turut memerdekan Indonesia. Namun, tentu ia tidak memikirkan, ketika seluruh jiwa raganya dikorbankan, ia tak mendapatkan apa-apa dari negara yang dibelanya (walau sebenarnya setiap pahlawan sejati tak pernah mengharapkan apa-apa dari setiap perjuangannya).
Ia justru ditutupi oleh perjuangan yang telah dilakukan. Dikorbankan untuk kepentingan politis oleh rezim yang tidak menghargai sejarah. Di negara yang telah merdeka namun mewarisi mental kolonial, di zaman inilah sebenarnya kita hidup. Ketika nilai-nilai pahlawan diperdagangkan dan harga diri tidak menjadi sakral yang mesti dipertahankan.
Negara telah membuat jutaan rakyat tak memeroleh penghidupan yang layak karena tak mampu mendapatkan uang untuk makan, di tengahnya lahan subur terkubur. Kenaikan harga BBM yang diputuskan oleh negara, membuat ibu-ibu rumah tangga, bapak-bapak kepala keluarga menjerit, akhirnya maling. Tingginya biaya berobat, membuat ibu-ibu hamil, orang-orang miskin yang sakit mendapatkan perawatan tak wajar dan jauh dari sifat kemanusiaan. Namun, kita tetap menyebutnya sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.
Negara tak berarti banyak—atau tak dipikirkan—oleh orang-orang miskin desa, orang-orang miskin kota, dan orang-orang miskin di mana saja. Baginya, tanpa negara pun hidup tetap terbawa arus mainstrem zaman. Negara hanya sebuah simbol adanya rakyat.
Negara membuat banyak warga yang mengeluh oleh setiap keputusan yang dilahirkan, diputuskan, kemudian dijalankan. Belum lama ini, keputusan institusi negara pemadaman bergiliran listrik membuat jutaan bahkan ribuan rakyat terpekik. Di zaman yang semakin maju, tingkatan keperluan masyarakat akan lsitrik tentu akan semakin bertambah pula.
Sebaliknya, negara berarti banyak bagi penikmat hasil perjuangan. Ketika mobil-mobil mewah mereka memecah angkasa. Rumah-rumah mewah yang dibangun dari pajak rakyat tertindas. Plaza-plaza mewah menutupi PKL-PKL yang hampir tak berpenghasilan pasti.
Negara itu tidak adil. Memperbiarkan korupsi merajalela. Terlalu tega dengan pendidikan yang semakin rendah. Melepaskan setiap detir peluru kepada rakyatnya. Entahlah, negara bisa saja bermakna penindasan seperti yang dialami Nietzhe di zamannya.
Di sebuah negara yang terjajah, mengutip Hatta, ”Hukum dan keadilan merupakan kata-kata kosong belaka, yang begitu sering diucapkan oleh pihak penjajah apabila mereka naik ke atas panggung internasional, di balik layar mereka bersuara lain.” Pemikiran ini menemukan realitasnya sekarang. Kampanye adalah kebohongan yang dihalalkan. Hukum dibeli, uang rakyat dipergunakan untuk kepentingan pribadi. Rasanya, tahun lalu, tahun lalu lagi, dan lagi masih ini juga persoalan bangsa kita.
Solusi Sendiri
Jika pada akhirnya kita terus menatap negara dengan pandangan sinis, kita akan berpikiran bahwa menjadi liberal jauh lebih baik. Feodal mungkin menguntungkan. Demokrasi hanya mimpi pengamen yang tidak mendapatkan pekerjaan. Pandangan dan persepsi mesti diubah, mungkin itu salah satu jalan untuk melepaskan diri dari kesinisan terhadap negara.
Permasalahan yang kita hadapi sekarang adalah mental kaum terjajah, dan sepertinya sulit untuk melepaskannya. Fachroel Rachman pernah berujar, ”Untuk membuat negara ini maju, mesti ada pembersihan pemimpin. Generasi yang baru mesti terbebas dari doktrin pemimpin sekarang selama tujuh generasi.” Tidak untuk terlalu membenarkan pernyataan Fachroel, kita mesti berpikir membuat negara ini lepas dari mental kolonial tanpa harus menghilangkan tujuh generasi.
Kita, ‘anak’ zaman dari negara, mesti berpikir hidup mandiri. Mencoba mencari alternatif lain untuk lepas dari permasalahan-permasalahan. Tidak menetek pada Bapak yang bernama Negara. Tidak menyusu lagi pada Ibu yang bernama Bangsa. Biarlah ibu dan bapak menyelesaikan urusannya sendiri, dan kita tak perlu lagi mengumpatnya.
Ketika listrik sering (malah) pudur, tak perlu lagi mengumpat PLN. Mungkin PLN sedang mengalami masalahnya sendiri dan kita tak perlu mempersalahkan. Sebagai anak yang baik, kita mesti berpikir untuk menghasilkan energi listrik sendiri. Walau tidak terlalu terang seperti PLN, tapi setidaknya cukup untuk menerangi. Kalau tidak bisa membuat energi sendiri, ilmuwan-ilmuwan dari perguruan tinggi bisa memberikan jalan keluarnya. Pun, dengan persoalan BBM. Harga BBM yang terus naik, jika tidak lagi terjangkau, kita mesti kembali berpikir menggantinya. Plankton ternyata bisa dijadikan bahan bakar untuk menggerakkan sepeda motor. Ketika ibu dan bapak pusing dengan permasalahan kemiskinan, secara berembuk, kita anak-anak bangsa, saling tolong menolong untuk membantu saudara. Jika saudara tidak mendapatkan pekerjaan, dicarikan ia peluang untuk bekerja atau menghasilkan sendiri. Di setiap persoalan, kita mesti berpikir menyelesaikannya sendiri tanpa melibatkan ibu dan bapak kita. Biarlah Ibu dan Bapak menyelesaikan masalahnya sendiri!!
Menghindarkan diri dari ketergantungan Ibu dan Bapak mungkin sulit, tapi tidak ada jalan lain. Semuanya secara bertahap dan saling tolong menolong sesama anak bangsa mesti digembeleng. Agar kita tidak lagi sinis terhadap negara ini!.
