Agustus 2008



Andika Destika Khagen


Euforia kemerdekaan menggema di seluruh negeri Indonesia. Bendera merah-putih berkibar penanda masih ada rakyat yang peduli pada arti kemerdekaan. Pada hari ini, Bung Karno disebut, Bung Hatta dipuja, dan pahlawan lain dikenang. Eforisme kemerdekaan menusuk sanubari. Ini hari untuk mengenang penjajahan kolonial yang menyakitkan dan meruntuhkan moral bangsa. Dalam lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan dengan khidmat, tertanam sebuah semangat untuk tidak lagi dijajah, apalagi ditindas.
(lagi…)



Rio SY

Bila bagi kaum Pythagoras atau kaum matematika, dunia adalah angka-angka maka bagi orang sastra dunia adalah fiksi, dengan kata lain dunia di bentuk oleh fiksi. Begitulah terlebih dan kurangnya.

(lagi…)


Andika Destika Khagen

“Sayangnya aku hidup di jamanmu. Zaman yang sulit kumengerti, namun berusaha terus kupahami.” Ada makna tersembunyi di balik kata-kata yang diucapkan Dedy Mizwar dalam film Nagabonar jadi 2. Ia tak hendak berbicara penyesalan, justru mencoba menerima keadaan yang di luar batas pikirannya. Keadaan muda, keadaan realitas kini yang diperbentangkan. Keinginan muda—sebuah keinginan yang tanpa tara dan seolah tak mengenal lara. Lara bisa saja bearti ‘dunia lain’ pertentangan: dunia pemberontakan, dunia pemikiran, dunia sadar akan cita-cita. ‘Dunia lain’ tak bermakna sempit. Cendrung mengarah kepada dimensi pencapain. Tak selalu bersifat universal, jelas sebuah identitas yang beragam. Beragam. Betapa kata tersebut begitu tinggi ranah oksiologinya.

(lagi…)

Arif Rizki

Ketika masa kejayaan Islam dipimpin oleh khalifah Harun Al-Rasyid, sastra lisan cukup mendapat tempat yang terhormat bagi masyarakat. Banyak penyair-penyair diundang ke istana untuk memberikan nasihat-nasihat serta pemikiran cemerlang yang inspiratif sekaligus menghibur. Ketika itu Harun membina suatu hubungan karib dengan seorang pencerita yang bernama Bahlul. Ia merupakan pencerita yang sangat disenangi oleh baginda raja, sehingga ia leluasa masuk-keluar istana sesukanya. Suatu siang Bahlul berkunjung ke istana untuk menemui Harun Al-Rasyid. Ketika ia tiba di istana, ia tidak menemukan siapapun  di balairung. Barangkali baginda dan para pengawalnya sedang makan siang dan beribadah, pikirnya.
(lagi…)