Andika Destika Khagen
Seharusnya aku berbahagia menerima kenyataan: anak pertamaku lahir. Persis seperti istriku yang sedang tersenyum di samping bayi mungil itu. Aku Ayahnya yang turut serta membantu ia lahir. Kebahagiaan itu mestinya bertambah. Bayi merah yang kini masih menangis adalah anak pertamaku—mungkin—juga anak terakhir. Setelah kelahiran bayi itu, istriku didaulat tak lagi boleh melahirkan. Ia terkena kanker rahim.
Tapi, ah, bayiku memiliki wajah cantik. Tak jauh beda dengan raut muka yang dimiliki istriku. Hidungnya mancung dan bibirnya merah. Kulitnya putih bersih. Baru lahir saja kecantikan sudah tampak padanya. ”Benar-benar cantik anakmu, Kus,” begitu kata Bidin, Abangku.
Aku tak sempat tertawa ketika bayiku menangis. Ia tentu berharap aku menghampirinya dan memberikan kecupan. Berharap perlindungan dari perjalanan panjang yang melelahkan. Tapi kenapa aku diam terpaku dan tak dapat berbuat apa-apa ketika aku tahu anakku memiliki wajah yang cantik? Apakah aku justru berharap ia memiliki wajah sepertiku? Gigi ke depan dan raut muka yang tak jelas.
”Ada apa Uda?” Tiba-tiba istriku melepaskan pandangan kepadaku.
”Kita tentu berbahagia hari ini, istriku. Wajah anak kita persis sepertimu.” Aku menghampiri istriku. Aku yakin ia tak tahu dengan pikiranku sekarang ini. Ia bahagia dan aku tak hendak mengusiknya.
Kuhampiri anakku. Aku akan mengucapkan kepadanya Selamat Datang dan berjanji akan terus menjaganya agar ia tenang dan berhenti menangis. Tapi aku tak menemukan wajah anakku. Baru saja hendak kuambil ia dari pangkuan istriku, aku melihat ia sedang merayakan ulang tahun yang ke-17 dan sedang mengucapkan sebuah permintaan.
“Aku hanya berharap Robert menemuiku dan memberikan ciuman terindahnya.” Anakku tersenyum. Matanya sedikit terpejam. Tapi ia tidak tahu aku sedang memikirkannya.
“Apakah kau tak berharap supaya cepat tamat sekolah, Anakku?” Begitu kataku padanya.
“Aku hanya ingin Robert, Kus.”
Aku tak memarahinya karena aku sudah berjanji ketika ia baru saja lahir akan selalu menjaganya. Aku tak jadi memberikannya buku IPA untuk kelas 3 sebagai kado karena aku yakin tak akan dibacanya.
Tanganku yang hendak mengambil gadis kecilku dari tangan istriku tiba-tiba berhenti ketika ujung jariku hendak menyentuh tubuhnya. Gadis kecilku belum berhenti menangis. Tanganku tak jadi merangkulnya.
“Ada apa Uda?” pertanyaan yang sama kembali dilontarkan istriku.
”Aku hanya terharu. Ini bayi kita satu-satunya.”
”Kenapa Uda gemeteran?”
”Aku tak tahu harus mengucapkan apa kepada gadis kecilku.”
Kutatap lagi anakku. Ia masih menangis dan tentu belum mampu melihat kepadaku, Ayahnya. Kutatap ia agak lama. Oh, aku melihat ia kini berumur 22 tahun. Anakku tamat juga dari SMA setelah kutitipkan sebuah amplop di saku Kepada Sekolah. Ia baru pulang kuliah dan membawa seorang lelaki berperawakan Inggris memasuki rumah. Aku menyambutnya di pintu depan.
”Perkenalkan Robert. Ini Kus, Ayahku. Kus, ini Robert. Permintaanku pada ulang tahun yang ke-17 akhirnya terkabul juga.”
Kujabat tangan Robert. Aku tersenyum dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Aku sampai lupa bahwa anakku tak pernah memanggilku dengan panggilan Timur: Ayah atau Bapak. Padahal sudah kuajarkan dan kubisikkan ke telinganya ketika pertama kali kuhentikan ia menangis. Tapi ia lebih senang memangilku dengan nama Kus. Nama yang diberikan kakeknya dulu.
Aku belum tertidur ketika kudengar pintu depan dibuka seseorang. Tawa bersambutan mengganti suara pintu yang akan ditutup. Aku keluar kamar. Kulihat anakku dengan teman-temannya.
”Dari mana saja Anakku?”
Entah apa yang diucapkannya. Sepertinya ia tak berada pada kondisi yang normal. Tapi aku mendengar kata terakhir yang diucapkannya ”Mana minuman aku?”
”Uda, jangan panik. Sambutlah bayi kita.” Istriku mengagetkanku lagi. Ia rupanya melihat aku sedang bermenung dihadapan gadis kecil kami.
”Aku ke kamar kecil sebentar, istriku.”
Semestinya, tak perlu ada yang dicemaskan ketika gadis kecilku lahir. Ia lahir normal walau melalui operasi. Tapi aku hanya takut pada wajah cantiknya yang mirip dengan istriku. Takut sekali.
Aku sebenarnya sudah tahu bahwa istriku sudah tak perawan lagi ketika kami menikah. Ia jujur mengatakannya. Karena itulah kuhargai. Siapa yang tidak bangga mendapatkan istri yang begitu cantik? Aku lupa, siapa pula perempuan yang mau bersuami lelaki dengan gigi ke depan dan raut muka yang tak jelas? Aku menerimanya dan berjanji apa adanya.
Tapi, gadis kecil ini, telah menggambil alih wajah istriku. Penuh. Mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tak satu pun aku temukan perwakilan tubuhku pada gadis kecilku. Tak juga (walau) hanya alis mata. Tak.
”Gadis kecilku, aku adalah ayahmu,” kuyakinkan diriku di kamar mandi.
***
Aku tak bisa lagi menahan emosi pagi ini. Kuhampiri anakku. Ia bara saja pulang dari kegiatan rutinnya.
”Praaakk..” Sebuah tamparan hebat mengenai pipinya.
”Kus. Kenapa kau tampar aku? Apakah aku salah melakukan apa yang kulakukan?”
”Tidak salah, Anakku. Hanya kau melakukannya terlalu sering sehingga lupa akan tugas pokokmu. Sebagai anak dan juga mahasiswa.”
”Oh, tidak Kus. Aku hanya melakukan apa yang kuinginkan. Seharusnya kau tahu itu. Bukankah selama ini kau tak pernah melarangku?”
”Kau anakku satu-satunya. Seharusnya kau turut apa kata-kataku.”
”Kus, kau harus menyadari satu hal: kau telah menamparku. Harga diriku telah kau lecehkan.”
”Tidak anakku. Aku hanya memperingatkan kau. Aku rasa itu wajar.”
Tapi, ah, tidak. Anakku tidak terima pipinya ditampar. Ia merasa dilecehkan dan haknya sebagai makhluk bebas (ini tak pernah kuajarkan). Ia mengemasi barang-barangnya. Aku selalu lupa menceritakan, istriku telah meninggal dua tahun yang lalu. Kanker rahim yang dideritanya tak sanggup lagi ia lawan. Tak mampu pula kubantu. Kini hanya aku dan anakku. Sebentar lagi aku akan sendirian.
Anakku tak lagi melihatku. Robert datang kemudian menjemput anakku.
”Semoga kau bahagia, Kus. Aku akan tinggal serumah dengan Robert. Aku pikir itu lebih baik.”
Air mataku bercucuran di washtafel rumah sakit umum ini. Kutatap wajahku agak lama. Mampukah aku membesarkan anakku? Ia seorang perempuan yang berwajah cantik yang akan hidup nantinya pada abad ke-22. Aku membayangkan, pada abad itu tak akan ada lagi norma. Andaipun ada, tak banyak lagi kenal dengannya. Pemikiran manusia akan kembali pada zaman Yunani Kuno ketika akal menjadi Tuhan. Termasuk anakku, walau aku telah mencoba mengajarinya. Tapi, jujur, aku tak sanggup memaksanya. Mungkin itu kesalahanku.
”Apa yang kau pikirkan, Kus?” Tiba-tiba Abangku, Bidin sudah berada di sampingku.
“Ah, tidak Bang. Aku hanya terharu menerima kenyataan ini.”
”Yah, aku tahu. Tapi tengoklah anakmu sekarang. Ia belum juga berhenti menangis.”
Kuhampiri anakku untuk kesekian kalinya. Sejak prosesi kelahirannya, belum pernah kusentuh ia. Padahal ia adalah anakku sekarang yang lahir dari rahim istriku. Di sekitar, para tetamu dari keluargaku semakin banyak yang berdatangan.
”Kau beruntung, Kus. Anakmu cantik sekali. Untung ia tak meniru wajahmu. Ha..ha..”
Saudara-saudaraku yang berdatangan selalu mengucapkan kata-kata itu. Tapi kenapa aku muak
dengan kata-kata cantik?
Aku berusaha menenangkan pikiran. Ini hanya ilusi dan permainan akal tak sadar yang dipengaruhi halusinasi. Aku harus berada di realita dan mencoba berpikir realistis. Saat ini, aku harus gembira, bukan menangis. Biarlah anakku saja yang menangis!
”Mengapa terlalu lama Uda di luar? Lihatlah anak kita. Rangkul dan peluklah ia. Aku yakin setelah itu anak kita akan berhenti menangis.”
Aku harus memeluk anakku dan membawanya kepangkuanku. Menciumnya dan berbisik harapan di telinga kanannya. Aku sudah jadi Ayah sekarang. Itu anakku, sedang menangis di samping kiri istriku. Aku duduk kembali di samping istriku. Hal pertama yang hendak kulakukan adalah mencium kening anakku kemudian menggendongnya.
Anakku datang lagi ke rumah menjengukku. Aku lihat ia sudah semakin tua. Tapi raut kecantikan dari wajahnya masih terlihat jelas.
”Kus. Aku harus menyadari bahwa selama ini kau benar.”
”Apa yang kau alami anakku?” Di dadaku, tak ada kebencian untuk anakku, meski ia tak pernah mendengarkan kata-kataku.
”Robert meninggalkanku setelah anak kedua kami lahir. Tapi ia tak pernah menikahiku. Kau tentu tahu Kus. Aku terlalu mudah mendapatkan pria.”
”Apa yang membuatmu kecewa?”
”Kepergian Robert diganti dengan Budiono. Orang Jawa. Ia kaya tapi telah berisitri. Tentu aku tak mau pula ketinggalan dengannya. Aku juga punya simpanan. Ia mengetahui dan marah.”
”Lalu?”
”Aku berpindah dari satu pria ke pria lain. Aku tak pernah merasa terganggu. Tapi ketika anakku tumbuh besar, ia jadi sepertiku. Untuk pertama kalinya aku menangis ketika anakku menamparku.”
Aku tak sempat bertanya ketika ia terus berkata-kata.
”Aku merasa kosong sekarang.”
”Apa yang bisa kulakukan sebagai seorang Ayah, anakku?” Untuk pertama kalinya aku tersenyum kepada anakku.
”Aku cuma ingin bertemu kau, Kus. Entah kenapa aku rindu itu. Tapi aku tak mau larut di dalamnya. Aku pergi dulu, Kus.”
Aku tak sempat mencegahnya. Andaipun aku cegah, ia tentu akan pergi juga. Padahal aku ingin memeluknya. Hal yang belum pernah kulakukan pada anakku.
”Ada apa lagi, Uda? Kenapa kau begitu sering melamun, justru ketika anak kita lahir? Ceritakanlah kepadaku.”
***
Anakku belum berhenti menangis ketika semua mata tertuju kepadaku. Perhatian orang-orang yang berada di rumah sakit sekarang beralih kepadaku. Entah kenapa, aku tak dapat lagi menguasai diri. Ketika aku hendak memeluk gadis kecilku yang belum berhenti menangis, aku terjatuh dan tak sadarkan diri. Padahal tanganku belum sempat menyentuhnya.
”Ia mungkin kecapekan,” kata Bidin, Abangku.
Saudaraku yang lain memberikanku air putih dan memberikan aku obat. Ada pula yang memijit-mijit kepalaku. Tak ada raut kecemasan dari wajah mereka.
”Berikan Kus makan. Ia lupa makan dari kemarin. Ia terlalu mengkuatirkan kelahiran bayinya,” ujar Saudaraku yang lain, yang sempat kudengar.
Aku sebenarnya bukan tak sadarkan diri. Aku masih bisa mendengar suara saudara-saudaraku. Yah, mungkin mereka benar, aku hanya kecapean.
Oh, aku ingin memeluk anakku sekarang agar ia berhenti menangis. Akan kubisikkan di telingnya bahwa aku akan selalu menjaganya. Aku akan lakukan tugasku sebagai seorang Ayah. Ketakutanku tak akan kuceritakan. Aku akan putar balik apa yang menjadi pikiran itu. Tapi, ah, aku kecapean. Aku tak sanggup berdiri. Aku dibaringkan di sebelah dipan tempat gadis kecilku menangis di pangkuan istriku.
”Ia terlalu bahagia.” Suara ini tak lagi kukenali.
RuangSempit, 2008/6
