Andika Destika Khagen
Seharusnya aku berbahagia menerima kenyataan: anak pertamaku lahir. Persis seperti istriku yang sedang tersenyum di samping bayi mungil itu. Aku Ayahnya yang turut serta membantu ia lahir. Kebahagiaan itu mestinya bertambah. Bayi merah yang kini masih menangis adalah anak pertamaku—mungkin—juga anak terakhir. Setelah kelahiran bayi itu, istriku didaulat tak lagi boleh melahirkan. Ia terkena kanker rahim.
(lagi…)
