FadlyAkbar

Dalam perkembangannya, budaya pop ( baca juga sinema pop) adalah sebuah lahan yang dipenuhi kontroversi. Ia telah menuai perdebatan yang sengit terutama sekali jika dihubungkan dengan keberadaannya sebagai referensi akademis dan ilmiah. Karya pop lebih sering dianggap sebagai karya yang tidak layak diperbincangkan secara ilmiah karena tidak mengandung nilai-nilai ‘kekekalan’ seperti karya sastra berkelas. Bahkan Thomas J. Roberts menyebutnya sebagai junk, sesuatu yang bersifat sampah. Hal ini mungkin saja dipahami oleh Robert karena kebanyakan karya pop lebih bersifat dan berorientasikan menenangkan benak pembaca atau audiensnya. Ia lebih bersifat menghibur, memuaskan keinginan-keinginan pembaca atau audiens, dan bukan untuk membebani mereka dengan hal-hal yang serius.


Namun, tudingan yang cenderung negatif itu tidak selamanya berlaku pada individu maupun kelompok yang berminat dengan karya pop. Setidaknya, dengan banyaknya peneliti yang memfokuskan dirinya pada studi pop telah menyanggah asumsi dan premis yang seperti itu. Karena pada dasarnya memang tidak ada produk budaya apapun baik itu novel, drama, puisi, film, lukisan atau musik yang mengikat audiensnya pada satu interpretasi. Tidak ada hanya satu sudut pandang ataupun makna yang bisa ditafsir. Tetap, audiens adalah sesuatu yang menentukan bagus atau tidaknya sebuah karya.
Radit dan Jani, sebagai contoh, adalah salah satu karya pop yang cukup ‘kompeten’ untuk dibongkar. Film garapan Upi ini memang tidak ‘seserius’ dan ‘seberhasil’ garapannya Garin Nugroho atau Arya Kusumadewa. Namun dari segi tema, ia juga bisa dilihat cukup matang dan menantang, terutama sekali wacananya mengenai humanisme marxisme. Ia adalah sebuah film yang mencoba menelanjangi sisi gelap realitas masyarakat yang telah dikonstruksi sehalus mungkin melalui sistem kapitalistik, yang pada akhirnya menyisakan sebuah kesadaran semu (false consciousness), yang kemudian menjelma pada apa yang masyarakat sepakati sebagai ‘kenormalan’. Juga, film ini adalah sebuah suara sumbang anak muda dalam mengaktualisasikan dirinya untuk menafsir realitas dengan caranya sendiri. Artinya, cara yang coba mereka hadapi sangat menghasilkan persepsi yang sebagian besar berbenturan dengan cara masyarakat kebanyakan coba pahami dan jalani. Bahkan, cara hidup mereka dianggap mengganggu stabilitas struktur sosial. Ada apa sebenarnya dengan anak muda dalam Radit dan Jani? Realitas macam apa yang sedang mereka bangun?

Anak Muda dan Politik Kebudayaan

Pada opening film, Radit dan Jani sudah diperkenalkan sebagai agen kebudayaan DIY atau Do It Yourself. Ini adalah semacam budaya yang dimunculkan oleh anak-anak subkultur (Punk mungkin salah satu contoh). Karakter mereka ini adalah representasi dari karakter subkultur yang merasa jengah dengan tatanan hidup yang serba diatur oleh sistem yang dominan. Memakai Thornton (1997), eksistensi subkultur daripada Radit dan Jani dipandang sebagai ruang-ruang budaya yang ‘menyimpang’ untuk menegosiasikan ruang bagi dirinya sendiri. Artinya ia mendistorsi sebuah aliran realitas dominan dengan membentuk ruang tersendiri. ‘Pernak-pernik’ subkultur bisa dilihat pada cara mereka berdua mengaktualisasikan cara hidup mereka,mulai dari gaya, selera ataupun pola pikir. Hal semacam ini bisa tergambar melalui penampilan punk mereka, kebiasaan “mencuri” di sebuah mini market, sampai pada perlawanan mereka terhadap bos-bos yang memperkerjakan mereka. Ringkasnya, menjadi ‘subkultur’ adalah cara mereka untuk membentuk ruang perlawanan terhadap nilai-nilai dan cara pandang yang dominan dan mainstream. Menjadi subkultur, secara tidak langsung, adalah sebuah ruang yang penuh dengan negosiasi politis.

Seterusnya, dalam Radit dan Jani ruang bernegosiasi itu semakin terlihat pada konflik mereka dengan keluarga Jani. Mereka berdua berhadapan dengan sebuah percakapan yang sangat dingin yang dimulai oleh ayah Jani. Disini, Percakapan yang dingin itu lebih bisa ditafsir sebagai akumulasi negosiasi dari sebuah bentrokan budaya. Dengan pengertian, kebudayaan dominan yang diwacanai kenormalan akan selalu bertentangan dengan kebudayaan minor yang ‘diwacanai’ oleh penyimpangan. Konflik di meja makan, lebih jauh, adalah representasi pertarungan kelas. Konflik itu mengungkapkan posisi ayah Jani dan keluarganya mewakili masyarakat kelas mapan, sedangkan Jani mewakili anak-anak ‘slengean’ yang jauh dari mapan. Disinilah bentrokan itu akan terus bersarang, karena budaya dominan tidak akan mau menerima bentuk lain diluar dirinya. Sementara dipihak lain, kaum minorotas akan terus melakukan budaya tandingan selama budaya dominan tidak memberikan pilihan yang “bersahabat”.

Tafsir itu Bernama Pemberontakan

Seperti yang sudah digambarkan, Radit dan Jani adalah sebuah representasi atas penafsiran yang melihat realitas dalam kacamata yang berbeda. Dan seperti semangat subkulturnya, penafsiran itu lebih cenderung diaktualisasikan dalam semangat pemberontakan atau perlawanan. Pemberontakan bukan hanya melulu sebuah gerakan destruksi secara fisik, akan tetapi lebih dari itu ia lebih menyangkut persoalan paradigma. Ada sebuah wacana yang coba mereka pertanyakan disini dalam memaknai realitas, yakni kebahagiaan. Seperti yang diucapkan Radit, “ Bahagia itu kita yang nyiptain, bukan mereka. Mereka pikir kalau gue nggak bisa ngasih loe rumah, mobil, baju bagus itu artinya gue nggak bisa bahagiain loe” (scene 1). Ungkapan ini adalah ungkapan satire Radit terhadap paradigma masyarakat yang sentarlistis dalam memaknai kebahagiaan.

Lebih jauh lagi, sindiran terhadap realitas ini adalah semacam sindiran yang pernah dilontarkan Marx dalam memaknai realitas. Kebahagiaan yang dipandang oleh orang kebanyakan, memakai Marx, adalah lahir dari sebuah realitas semu/kesadaran semu. Ia adalah sebuah distorsi, dimana persepsi kebahagian lebih berorientasikan pada sebuah ideologi, yakni kapitalisme. Kebahagiaan adalah pada apa yang ditentukan oleh sistem dan orientasi kapital. Sementara itu, kenyataan yang lahir disaat kelompok pemodal menginjak-injak “kebahagiaan” kaum buruh lebih banyak tersamarkan. Dalam film ini, konflik yang dialami baik oleh Radit ataupun Jani ditempat kerjanya lebih dikarenakan bagaimana kaum pemodal (bos) tidak bisa menerima karyawan yang membahayakannya. Ini adalah sebuah representasi dari politik hegemoni supaya kekuasaan bisa terus dipertahankan. Kekuasaan adalah energi untuk melahirkan standarisasi kebahagiaan nantinya.

Oleh karenanya, pemberontakan mereka ini adalah sebuah gambaran bagaimana mereka bukanlah bagian dari klas-klas subordinat yang tidak merasakan diri mereka tengah dieksploitasi dan ditindas. Pemberontakan itu dimunculkan dengan melahirkan cara hidup yang “berantakan”. Artinya, pola hidup ini ditujukan sebagai penawaran atas bentuk kebahagiaannya sendiri tanpa harus larut dalam pengertian akan kebahagiaan yang selama ini telah terkonstruksi secara kapitalistik itu.

Selain itu, pada satu titik, Radit dan Jani bukanlah ‘seberandal’ yang tengah dipertontonkan. Jauh dari itu mereka berdua adalah sepasang manusia lugu dan polos yang mencoba berkomunikasi dengan realita yang sudah terlalu terkontaminasi oleh sebuah sistem. Mereka adalah orang yang terpinggirkan realita, namun paling mengerti bagaimana menghadapi realita itu. Hal semacam ini terlihat melalui eksistensi nikah muda yang mereka usung. Pernikahan ini adalah simbol dari perlawanan dan politik itu sendiri, bahwa sebuah pernikahan tidak mesti harus dimulai dari kemapanan, sebagaimana telah sangat diyakini oleh masyarakat kebanyakan. Namun yang lebih penting adalah konsep menerima satu sama lainnya. Hal ini terlihat pada bagaimana Jani berkali-kali meyakinkan Radit kalau ia bisa hidup bahagia walaupun dalam kepelikan. Cara berfikir Jani, disini, adalah sebuah representasi dari apa yang pernah Husserl kaitkan diantara kesadaran dan realitas. Sebuah kesadaran tidak muncul dari realita akan tetapi kesadaran itulah yang membentuk realita. Sehingga, sebuah logika bukan muncul dari realita, namun melalui kesadaran. Ringkasnya, konflik Radit dan Jani dalam menghadapi realita adalah sebuah simbol “keberanian” dari kesadaran dalam mengarungi kehidupan, yang lagi-lagi sangat ditentukan oleh keberadaan kapitalisme.

Sebuah Perpisahan

Di akhir film Radit dan Jani berpisah. Sebuah perpisahan yang menandakan bagaimana cinta ‘subkultur’ mereka belum cukup untuk bisa bertempur sekaligus bergaul dengan realitas kebanyakan. Perpisahan ini adalah sebuah representasi dari kekalahan atas sebuah sistem. Ia mengungkapkan bagaimana terlalu susahnya melawan sebuah sistem yang telah begitu lamanya menghegemoni titik dasar kesadaran masyarakat yang paling dalam. Mengamini Gramsci, perlawanan yang diperlihatkan anak muda semisal Radit dan Jani terhadap sistem kapitalistik tak lebih dari sebatas ruang negosiasi, karena hasil akhir sudah jelas dari awal ”pertempuran”. Gramsci melihat bagaimana arena pertarungan ini, maupun persetujuan menang kalahnya hanyalah bagian dari strategi kelompok dominan untuk mempertahankan kekuasaannya. Karena jika persetujuan itu tak bisa didapatkan lagi selalu akan ada tindakan represif untuk mempertahankannya. Dalam film ini eksistensi karakter ayah Jani adalah representasi dari agen represif itu. Lalu persoalannya, sampai kapankah ”pertempuran” ini akan terus berlangsung?

2008