Arif Rizki

Sudah berjam-jam Pidiq memperhatikan tanda itu. Tapi ia tak juga merumuskan jawaban; kiranya apa yang ia risaukan. Ia teguh-teguhkan hatinya untuk tetap bertanya, apa yang tengah ia risaukan dengan tanda itu. Sepatutnya tak ada yang perlu ia cemaskan. Tapi ia merasa ada yang perlu ia pikirkan—berjam-jam.


Ia membenarkan duduknya di kursi rotan yang sudah reot itu sambil menikmati puntung rokoknya yang terakhir. Ia amati tanda itu. Ia tepis panggilan perutnya demi mematuti tanda yang ada di samping kanan pintu rumahnya itu. Sebuah tanda berukuran kira-kira selebar imsakiah Ramadhan tertempel rapi disana. Tertulis dengan sederhana; Rumah Tangga Miskin.

Ya, Pidiq mengulangi kalimat itu terus menerus sampai bibirnya kering. Sementara ia tetap memikirkan apa yang patut ia risaukan dengan adanya tanda yang tertempel di samping kanan pintu rumahnya itu. Bukankah tak ada yang patut ia pikirkan tentang tanda itu karena kalimat yang tertera disana berkata jujur seperti adanya.

“Sebaiknya tak ada yang kupikirkan.” Gumam Pidiq setelah ia mulai bosan mengulang-ngulang kalimat itu. “Toh, aku memang tak punya apa-apa. Aku tak punya barang-barang yang berserakan di rumah orang-orang kaya, bahkan aku tak punya uang untuk dibelanjakan istriku lagi. Lagi pula kalimat itu memang berkata benar. Ya, sangat benar.” Pidiq manggut-manggut.

Tanda itu ditempel rapi di dinding, di sisi kanan pintu masuk rumahnya yang tak memiliki jendela. Hingga siapa saja yang datang akan dengan mudah melihat tanda yang baru kemarin disematkan oleh seseorang yang dikenal Pidig sebagai tukang pembuat KTP itu. Tanda itu barangkali tak mengubah apa-apa dalam hidup Pidiq. Baginya itu hanya sekedar tanda yang memperjelas perbedaan keluarganya dengan keluarga lain di dekat rumahnya. Dan sebaiknya tak ada yang patut ia pikirkan mengenai tanda itu.

Tiba-tiba Pidiq menyeringai. Lalu mengangguk-angguk dan tertawa kecil sambil tetap duduk di kursi rotan reotnya. Ia lalu berujar bahwa kelak ia tak perlu berpura-pura meminta maaf kepada orang-orang yang datang minta sumbangan ke rumahnya, karena mereka dengan sendirinya akan pergi ketika melihat adanya tanda itu. Dan ia juga akan mendapatkan sejumlah uang setiap bulannya dari pemerintah yang ia tak juga mengerti dari mana sumbernya. Tapi ia akan tetap mengambil sejumlah uang itu dengan berbekal tanda yang tertempel di rumahnya itu. Setidaknya tanda itu telah memberi sedikit keuntungan.

“Kalau begitu tak ada yang patut aku pikirkan. Karena yang harusnya berpikir adalah orang-orang yang memberiku bantuan uang itu, bukan aku yang tak bersekolah ini. Aku hanya tukang sol sepatu yang hanya perlu menjahit sepatu para pejalan yang robek. Bukan memikirkan yang bukan-bukan.” Pidiq kembali bergumam. “Lagipula di dunia ini bukan aku saja yang diberikan tanda ini. Teman-temanku yang pemulung, tukang ojek, kuli bangunan, pengamen dan pedagang kacang pasti juga memiliki tanda ini di bagian depan rumah mereka. Dan aku bisa pergi ke tempat pembagian uang gratis itu bersama mereka.” lanjut Pidiq.

Tapi tiba-tiba galau kembali meracau di dadanya. Barangkali ada yang patut ia simpulkan dari kalimat yang sederhana itu. Tapi begitu ia mencoba untuk berpikir, yang terlintas hanyalah sepatu-sepatu yang sobek dan anak-anaknya yang berjuang menahan kelaparan.
****

Sudah hampir satu minggu rumah Pidiq dihiasi tanda dengan kalimat sederhana itu. Sejauh ini ia tak mendapat akibat yang buruk dari tanda itu. Tak ada satupun lecehan dari para tetangga karena tanpa adanya tanda itu orang-orang juga sudah tahu bahwa ia bukan orang yang ber-ada. Malahan ia mendapat masukan tambahan dari pemerintah dan sumbangan sukarela dari mushola yang bisa menambal utang dan kebutuhannya yang selalu bolong. Ia juga bisa membeli barang-barang yang sebelumnya tak ia butuhkan sebagai orang yang tak ber-ada. Namun karena uang pemberian bulanan itu cukup besar ia bisa berbelanja barang-barang yang sebenarnya tak perlu ada di rumahnya. Melihat itu banyak pula para tetangga yang menginginkan tanda itu dipajang di rumah mereka. karena mereka sudah kesal dengan para peminta sumbangan yang terus berdatangan setiap hari. Mereka juga ingin mendapatkan uang pemberian dari pemerintah dan sumbangan bulanan dari mushola. Apalagi kebutuhan manusia semakin beragam saja. Orang-orang perlu uang tambahan lebih banyak untuk dapat hidup lebih layak.

Selang beberapa hari, hampir semua rumah di sekitar rumah Pidiq tertempel tanda dengan kalimat sederhana itu. Semua orang mendadak berlagak seperti orang yang tak berpunya atau orang yang tak ber-ada meskipun beberapa rumah ada yang memiliki antena parabola di atap rumah mereka. bahkan ada yang menempel dua buah tanda yang mereka buat sendiri agar mereka dapat perhatian lebih dari orang-orang yang memberi uang itu.

“Uang yang dibagikan cuma-cuma itu adalah uang kita juga.” Seseorang dari mereka angkat bicara.

“Maksudmu?” tiba-tiba salah satu lagi dari mereka bertanya.

“Ya, aku melihatnya di televisi. Uang itu datang dari kita juga. Mereka mengambil untung dari orang-orang seperti kita”

“Orang yang seperti apa maksudmu?”

“Orang yang tak mau bersuara. Orang yang tak bisa membaca segala pertanda.”

“Kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?” yang lain juga ikut bertanya.

Aku bersungguh-sungguh. Ini hanya permainan orang-orang yang pintar itu.”

“Kalau begitu tak ada pula salahnya kita meminta uang yang lebih dari mereka itu.”

“Ya, sudah waktunya pula bagi kita untuk memperlihatkan kecerdikan kita. kita buktikan pada orang-orang yang pintar itu bahwa orang-orang seperti kita juga bisa berpikir. Ayo kita tuntut imbalan yang lebih setimpal atas nama tanda itu.”

Tanpa perlu banyak waktu, warga di kompleks Pidiq berhasil mengumpulkan orang-orang untuk menyerbu gedung pemerintahan. Mereka hendak meminta uang lebih atas nama tanda yang ada di bagian depan rumah mereka. Mereka merasa patut dapat perlakuan yang khusus dengan adanya tanda itu karena kata salah seorang dari mereka, pemerintah sudah berjanji untuk memperhatikan orang-orang yang terlunta.

Pidiq tak kalah semangat mendengar ucapan orang yang dulu dianggapnya sebagai orang yang sok tahu itu. Ia pun berniat untuk ikut pergi ke gedung pemerintah besoknya walaupun ia tak tahu benar apa yang ia perjuangkan selain uang.

“Buat apa kau ikut-ikutan? Kenapa tidak kita terima saja apa yang ada.” Istrinya Binar, menyeletuk dari dapur ketika Pidiq mengutarakan niatnya itu.

“Ah, kau tahu apa? Hidup ini tak sesederhana yang kau pikirkan.” Pidiq menjawab tanggapan istrinya.

“Bukankah kita sudah cukup bahagia dengan ini semua.”

“Sudahlah, kau tenang saja. Ini urusan laki-laki. Hidup ini tak seempuk tempat tidurmu itu, juga lebih rumit ketimbang bumbu dapurmu. Jadi kau tak perlu merisaukan apa yang aku lakukan. Lagipula ini semua untuk kau juga.” Pidiq menjelaskan niatnya kepada isterinya. Kali ini giliran isterinyalah yang memikirkan tanda itu.
*****

Esoknya warga kompleks Pidiq berangkat bersama-sama untuk menuntut tambahan uang jatah bulanan atas nama tanda itu. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan segerombolan orang yang hampir memiliki tujuan yang sama. Bedanya, mereka membawa-bawa bendera dan gambar-gambar orang-orang pemerintahan yang sudah dicoret-coret mukanya. Mereka juga membawa tulisan-tulisan yang kemudian mereka teriakkan sepanjang jalan. Tulisan-tulisan tersebut mereka bagikan pada rombongan Pidiq. Pidiq dapat jatah sebuah kertas besar yang bertuliskan ‘turunkan harga’. Entah mesti bahagia atau berduka, Pidiqpun membawa tulisan itu kemudian ikut menyorakkannya sepanjang jalan.

Di halaman gedung yang megah itu telah berdesakan orang-orang dari berbagai macam tempat. Mereka semua berteriak-teriak. Membakar ban bekas, dan menyorakkan semua yang tertulis di spanduk yang mereka bawa. Di hadapan mereka terdapat orang-orang berseragam yang memegang senjata. Mereka hanya mematung dan memperhatikan orang-orang berteriak,
“Turun kau dari jabatanmu!”
“Turunkan harga!”
“Beri kami uang!”
“Ya, turunkan harga!”
“Beri kami tanda bahagia!”
“Beri kami tanda !”
“Beri kami tanda !”
“Beri kami tanda !”
“Ya, beri kami tanda, bukan sekedar kata-kata.”

Demikian riuh suara yang menggema di halaman gedung memgah itu. Namun entah siapa yang melempar orang-orang berseragam itu dengan batu besar dan ban bekas yang terbakar, tiba-tiba halaman itu menjelma medan perang. Begitu sulit untuk saling mengenal. Orang-orang berseragam itu tak lagi mematung. Mereka menembakkan senjata ke udara. Memukuli siapa saja di hadapan mereka. dalam keadaan itu Pidiq bukannya malah lari menyelamatkan nyawanya dan pulang untuk menemui istri dan anaknya serta sepatu bolong yang mesti dijahit atau ditambal, tapi ia malah tetap berlarian kesana kemari sembari menyorakkan kalimat yang itu-itu saja—kalimat yang sama sekali tak ia pahami sepenuhnya. ‘beri kami uang, turunkan harga, beri kami tanda’. Orang-orang telah berlarian untuk menepi dan menyelamatkan diri diantara ratusan orang yang tergeletak bersimbah luka dan darah. Dengan sekuat tenaga pidiq tetap menyorakkan suaranya. Ia yakin tak ada lagi yang patut ia risaukan dalam hidup. Ia yakin cara inilah yang dapat mengangkat derajat keluarganya meskipun dihadapannya banyak orang yang telah roboh seperti tembok gedung pemerintahan yang sudah tak berbentuk lagi.

Dengan letupan semangat yang menggelegak di dadanya, Pidiqpun berlari ke arah orang-orang yang penuh kecamuk itu. Tak ia harapkan tiba-tiba di kepalanya seperti ada sesuatu yang berdentang—bukan seperti dentang jam dinding, tapi sebuah pukulan yang begitu keras yang membuat Pidiq seperti ingin tertidur pulas. Tubuh Pidiqpun tergeletak di atas tanah sambil tetap memegang spanduk yang masih saja ia sorakkan itu. Tapi ia tak lagi mampu untuk menggemakan suaranya. Tubuhnya terinjak-injak oleh orang-orang yang berlarian dan seketika bercampur baur dengan orang-orang yang bersimbah darah dan abu dari sisa pembakaran ban. Tubuh merekapun tak lagi mampu suarakan ‘beri kami tanda lagi’, namun mereka telah menjadi sebuah tanda. Barangkali sebuah tanda cinta atau sebuah tanda yang semestinya tak pernah ada.

Ruangsempit, 2008