Posted by ruangsempit under
cerpen Leave a Comment

Andika Destika Khagen
Seharusnya aku berbahagia menerima kenyataan: anak pertamaku lahir. Persis seperti istriku yang sedang tersenyum di samping bayi mungil itu. Aku Ayahnya yang turut serta membantu ia lahir. Kebahagiaan itu mestinya bertambah. Bayi merah yang kini masih menangis adalah anak pertamaku—mungkin—juga anak terakhir. Setelah kelahiran bayi itu, istriku didaulat tak lagi boleh melahirkan. Ia terkena kanker rahim.
(lagi…)

FadlyAkbar
Dalam perkembangannya, budaya pop ( baca juga sinema pop) adalah sebuah lahan yang dipenuhi kontroversi. Ia telah menuai perdebatan yang sengit terutama sekali jika dihubungkan dengan keberadaannya sebagai referensi akademis dan ilmiah. Karya pop lebih sering dianggap sebagai karya yang tidak layak diperbincangkan secara ilmiah karena tidak mengandung nilai-nilai ‘kekekalan’ seperti karya sastra berkelas. Bahkan Thomas J. Roberts menyebutnya sebagai junk, sesuatu yang bersifat sampah. Hal ini mungkin saja dipahami oleh Robert karena kebanyakan karya pop lebih bersifat dan berorientasikan menenangkan benak pembaca atau audiensnya. Ia lebih bersifat menghibur, memuaskan keinginan-keinginan pembaca atau audiens, dan bukan untuk membebani mereka dengan hal-hal yang serius.
(lagi…)
Posted by ruangsempit under
cerpen Leave a Comment

Arif Rizki
Sudah berjam-jam Pidiq memperhatikan tanda itu. Tapi ia tak juga merumuskan jawaban; kiranya apa yang ia risaukan. Ia teguh-teguhkan hatinya untuk tetap bertanya, apa yang tengah ia risaukan dengan tanda itu. Sepatutnya tak ada yang perlu ia cemaskan. Tapi ia merasa ada yang perlu ia pikirkan—berjam-jam.
(lagi…)
Posted by ruangsempit under
puisi Leave a Comment

AndikaDestikaKhagen
nun jauh di pulau antah berantah, hidup tuan dan nyonya
yang tak punya cerita. sejarah tak mencatatnya dalam buku.
tuan dan nyonya itu tak siapa-siapa. ia hanya orang yang hidup
di negeri nun jauh di pulau antah barantah.
2007