Andika Destika Khagen
Kian sore, tetamu semakin banyak berdatangan. Maklum, orang besar sedang menggelar syukuran: Drs. Bidin, M Hum, Ph.D. Gelar paling belakang baru saja ia peroleh. Hari itu, syukuran diadakan untuk gelar paling belakang tersebut. Bidin kelihatan sibuk sekali melayani tetamu. Tidak hanya undangan, orang-orang di sekitar juga diundang. Acara besar untuk menyambut sebuah penghormatan akan gelar.
Di antara banyak tetamu, datang seorang tamu aneh. Sangat tak masuk akal. Di luar pikiran Bidin tentunya. Tamu itu seorang pemuda tanggung. Paras mukanya kelihatan gagah. Tinggi. Berkulit putih. Tapi bukan itu yang membuat Bidin melihat pemuda tersebut menjadi aneh.
Beberapa kali Bidin memandanginya. Ia tak habis pikir, kenapa pemuda tersebut mesti hadir di pestanya. ”Benarkah tujuanmu ke sini?”
”Saya masih memegang undangannya.”
”Pernahkah sebelumnya kamu pergi sebuah pesta?”
”Ini untuk pertama kalinya.”
Ada dua hal yang ada dalam pikiran Bidin. Pertama mengusirnya. Kedua membiarkannya masuk menikmati hidangan makanan. Pada akhirnya Bidin kembali tersadar bahwa kedua pilihan tersebut tak ada yang baik. Pemuda itu tak layak diusir. Dia bukan pengemis, tak pula gelandangan yang mencari makan. Membiarkannya masuk sama saja mengacaukan acara. Banyak orang penting di dalam, mulai dari Rektor, teman-temannya semasa kuliah yang sekarang banyak jadi pengusaha, sampai kepada dosen-dosen.
Tetamu sedang berbincang di dalam. Dari luar terdengar tawa bersahut-sahutan. Bidin sedang berada di luar bersama tamu anehnya. ”Bisakah saya meminta padamu satu hal?”
”Bolehkah kita berbincang saja di dalam membahasnya?” Pemuda tersebut balik bertanya.
”Ada baiknya kita di sini saja terlebih dahulu. Ada satu aturan yang tak kau patuhi,” ujar Bidin lagi sambil mengajak sang pemuda keluar dari pagar rumahnya.
”Aku mengerti arah pembicaraanmu,” ucap pemuda tersebut mendahului Bidin yang hampir saja membuka mulutnya untuk berbicara.
”Aku sadar bahwa baju yang aku bawa ke sini tak pantas mengikuti acara ini. Tapi itulah masalahnya, aku terburu-buru datang ke sini. Tidak kuduga pula ketika orangtuaku menyuruh datang ke sini. Aku pikir Bapak mesti menghargainya, meski baju yang aku kenakan tak pantas dan membuat Bapak merasa malu,” ujar pemuda itu panjang lebar memberi pengertian.
”Sebenarnya saya mengizinkan saja kamu masuk ke dalam menikmati hidangan. Tapi di dalam banyak orang besar. Apakah kau tidak merasa malu?”
”Bapak yang akan malu nantinya.”
Bukan baju kemeja, apalagi baju batik. Tapi baju kaos. Ini tak pernah terjadi selama Bidin menggelar acara. Mulai dari syukuran gelar S-1 sampai S-3, tidak pernah ada tamu pakai baju kaos. Minimal, baju kemeja. Untuk pernikahan pun, tetap tak ada yang pakai baju kaos. Kalau pun ada yang pakai baju kaos, biasanya hanya sampai di luar saja, tak masuk ke dalam rumah. Bukan sebagai undangan tentunya.
Bidin baru saja menyadari bahwa pemuda yang sedang berada di depannya adalah anak Prof. Dr. Sulaiman Hamdi, dosennya dulu ketika S-1. ”Begini Kus,” Bidin mulai berlaku ramah ketika Kus menyebut bahwa ia adalah anak Prof. Sulaiman, ”Kenapa kamu tidak pulang dulu ganti pakaian lalu ke sini?” berkali-kali Bidin minta maaf dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan.
”Seharusnya aku yang minta maaf. Papa buru-buru menelfon dan menyuruh datang ke sini walau tanpa ganti baju,” jawab Kus dengan jujur. Ditambahkan Kus pesan dari Papanya bahwa ia tak bisa datang karena mengikuti acara seminar di Jakarta. ”Saya sudah jelaskan ini kepada Papa, tapi Papa tetap memaksa saya memenuhi undangan ini.” Kus menyambung ulang apa yang disampaikan orang tuanya.
Bidin menatap langit sebantar. Pikirannya menerawang kepada Prof. Sulaiman. Betapa Profesor itu tak pernah berubah. Ia tak pernah suka dengan yang namanya konvensi. Ia dosen aneh yang tak bisa dimengerti. Di antara dosen-dosen lain, ia yang paling berbeda. Tak hanya dalam penampilan, juga dalam perbuatan. Tapi ia juga paling cerdas. Pernah, dalam suatu pertemuan anggota senat ketika itu, kebetulan Bidin aktif di Surat Kabar Kampus yang membuatnya benyak mengenal ’orang-orang besar’ terjadi kejadian yang sama dengan yang dihadapinya sekarang.
Rapat senat adalah rapat tertinggi di universitas. Perdebatan seru terjadi, mahasiswa demo menuntut pemilhan rektor harus dengan pemilihan langsung. Para senat yang terdiri dari profesor-profesor panik karena mahasiswa mulai bertindak anarkis. Dalam suatu panggilan resmi, seluruh anggota senat diundang oleh Rektor untuk membahas pemilihan langsung tersebut. Karena rapat senat langsung dipimpin Rektor, semua yang hadir memakai jas lengkap.
Dari banyaknya anggota senat yang mengikuti rapat di ruang sidang, hanya satu orang senat yang tidak memakai jas: Prof. Sulaiman. Ia memakai kaos oblong dan celana jeans. ”Bisakah kita bedakan antara suasana santai dan genting?” Kata Rektor kepada Prof. Sulaiman dengan pandangan tajam.
”Kita sedang membicarakan nasib mahasiswa Pak Rektor, bukan masalah baju. Ini hanya identitas.”
Di ranah akademik, Prof. Sulaiman terkenal idealis. Ia dicintai mahasiswa dengan pola pikirnya yang sosialis. Tak hanya senat yang banyak kebakaran jenggot oleh profesor tersebut, para dosen pun sama. Ketika ia menjabat sebagai ketua jurusan, dosen-dosen yang tidak berkualitas diperkarakannya sampai ke DIKTI. Banyak sudah dosen yang terpaksa berhenti—tentunya dosen yang malas—dengan ketegasan sang profesor. Ia dibenci di antara orang-orang yang mencintainya.
Bidin sangat sadar sekarang ia tak berhadapan dengan Kus, pemuda tanggung di depannya. Ia sekarang sedang berhadapan dengan sang profesor, mantan dosennya dulu. ”Bagaimana kabar orangtuamu?” Bidin memulai percakapan di luar pagar yang sejenak terhenti.
”Ia baik-baik saja,” jawab Kus yang bingung dengan pertanyaan Bidin karena pertanyaan itu telah dijawabnya pada bagian pembuka. ”Oh ya. Ia meminta Bapak menemuinya dua hari lagi.” Bidin menoleh pada Kus. Tampak Bidin kebingungan.
”Ada apakah gerangan profesor memanggilku?” Sambil mengelurkan sebatang rokok dari saku baju batiknya.
”Saya tidak tahu. Mungkin perihal baju yang saya pakai.”
***
Disertasi Bidin perihal kebebasan. Tiga tahun penelitiannya terhadap aturan-aturan—baik aturan negara maupun masyarakat—ia mendapatkan sebuah kesimpulan: aturan tak lebih dari pengekangan penguasa demi mencari makna keuniversalan. Pola pikir Bidin sebenarnya sangat dipengaruhi oleh Profesor Sulaiman. Pun ketika ia melakukan penelitian, idenya berawal dari tingkah profesor yang dianggap sinting itu menjalani hari-harinya dalam keterasingan yang dicintainya.
Tak banyak aturan yang berniat mengatur, begitu kata-kata prosesor yang selalu diingatnya. Sampai pada akhirnya ia menemukan realitanya di lapangan. Tak aturan negara, bahkan aturan adat pun telah didekonstruksi oleh orang-orang yang merasa bahwa kekuasaan adalah aturan.
Ia sangat menyadari makna kebebasan. Apalagi kebebasan dalam berpikir dan mengeluarkn pendapat. Tapi kebebsaan yang kini sedang dihadapinya, sulit hati kecilnya menerima. ”Kebebasan yang tidak bertanggung jawab,” begitu hati kecilnya bicara. Bahkan, telah hampir satu jam mereka di luar dengan obrolan ngawur, Bidin masih bingung.
”Kalau begitu aku pulang saja. Masuk ataupun tidak, yang penting saya telah menemui Bapak,” ujar Kus yang tampak kecewa karena beberapa perkataan Bidin sudah membuatnya lelah.
”Oh, jangan Kus. Mari kita masuk. Oh..eh…”
”Oh..tunggu dulu.”
”Eh, maaf Kus..”
Kus bingung dengan seorang ilmuwan yang kini sedang berada di hadapannya. ”Maaf Pak, sepertinya tak ada pilihan bagi saya. Permisi.”
”Kussss.”
Anak profesor itu tak lagi memperdulikan Bidin. Ia kecewa rupanya. Berlalu walau Bidin berulang kali memanggilnya dari belakang. ”Baju, oh, kenapa aku mesti mengusirnya hanya perkara baju?” Bidin menyesali perbuatannya namun tetap tak kan dapat memanggil Kus kembali.
***
Bidin menepati janjinya bertemu profesor Sulaiman dua hari kemudian. Didapatinya profesor sedang duduk sambil membaca koran di teras rumah. ”Aku tebak. Berita koran hari ini adalah cerita seorang guru yang tinggal di pelosok daerah yang tidak mendapatkan jatah pembangunan. Ah, negara ini memang tak tahu lagi siapa yang dipersalahkan.”
Begitulah cara Bidin menyapa sang profesor. Ia mengerti betul dosennya yang sudah renta ini meski sudah puluhan tahun tak bertemu. Salam perkenalan adalah topik pembuka diskusi.
”Tebakanmu salah anak muda. Aku justru tak pernah membaca berita politik. Sudah lima tahun yang kubaca hanya berita-berita olahraga. Aku muak dengan negara ini.”
Bidin duduk di dekat profesor. Tanpa basa-basi tentunya. “Ada apakah gerangan profesor memanggil saya?”
“Ha..haa. Kau dan aku sama saja. Tak ada basa-basi. Mestinya kuhidangkan dulu segelas teh atau kopi.”
”Inilah pelajaran yang tak pernah saya lupa: basa-basi adalah miliknya penyair. Bukan seorang pemberontak.”
”Oh, maaf. Rupanya aku sedang berhadapan dengan pemberontak. Aku harus hargai itu.” Profesor itu masuk ke dalam rumah. ”Segelas teh hangat untuk menyambut pemberontak.”
Basa-basi hadir juga walau tidak pada bagian pertama. Profesor dan Bidin lupa dengan kredonya. Apa kabar, bagaimana kesehatan, apa yang sedang dikerjakan, mengalir di tengah perjalanan menuju topik yang mesti diperbincangkan.
“Ada apakah gerangan profesor memanggil saya?” Bidin memulai topik pembicaraan yang membuatnya tak jadi berangkat ke Jakarta hari ini.
“Ha..haa. Anak muda pemberontak. Kau tak sabaran juga rupanya. Bagaimana menurutmu? Aku ingin kau menebaknya lagi.”
”Tentang Kus?” Ditatapnya wajah profesor agak lama.
”Persis. Aku ingin menguji kebebasanmu. Apa yang telah kau perbuat terhadap Kus, anakku? Kenapa tak kau perbiarkan ia masuk? Bukankah ia juga undangan—sama seperti tetamu lainnya?”
”Mesti ada aturan yang dipatuhi untuk menegakkan kebebasan. Saya tidak mengusirnya, hanya mengajaknya berbincang di luar. Tapi ia keburu pergi. Sekali lagi, maafkan saya untuk hal ini profesor.”
”Tidakkah kau tahu ia tak mengerti apa-apa tentang baju? Tak pernah sekalipun aku mengajaknya pergi ke pesta. Baru kali ini ia memulai hidup yang berbeda, tapi kau tak menghargainya,” ujar sang profesor.
Bidin terdiam agak lama. ”Tak apa-apalah anak muda. Kau mahasiswa terbaikku. Sampai ketika aku pensiun, tak pernah kutemukan orang-orang sepertimu.”
”Terimakasih pujiannya profesor. Tapi aku merasa malu perihal perlakuanku pada Kus.”
Profesor masuk ke dalam rumah membawa kembali teh yang tadi dihidangkannya pada Bidin. ”Traak.” Pintu rumah ia kunci dari dalam. Bidin sadar pembicaraan telah ditutup. ***
RuangSempit, 2008