Posted by ruangsempit under
cerpen Leave a Comment

Andika Destika Khagen
Kian sore, tetamu semakin banyak berdatangan. Maklum, orang besar sedang menggelar syukuran: Drs. Bidin, M Hum, Ph.D. Gelar paling belakang baru saja ia peroleh. Hari itu, syukuran diadakan untuk gelar paling belakang tersebut. Bidin kelihatan sibuk sekali melayani tetamu. Tidak hanya undangan, orang-orang di sekitar juga diundang. Acara besar untuk menyambut sebuah penghormatan akan gelar.
(lagi…)
Posted by ruangsempit under
essay Leave a Comment

Rio SY
Globalisasi barangkali menjadi hantu yang menakutkan bagi kita. Ia bagai sosok monster yang akan menerkam kta hidup-hidup. Bahkan, bukan tidak mungkin globalisasi bisa menghancurkan kebudayaan kita. Tapi apakah cukup hanya dengan merasa takut dan waspada saja ? Kita mesti membasis diri kita dengan fondasi yang kokoh untuk menghadapi makluk yang disebut golalisasi tersebut.
(lagi…)
Posted by ruangsempit under
essay [6] Comments

ArifRizky
Apa yang menarik dibicarakan oleh para sastrawan selain perihal sastra dan sekelumit problema serta rasa yang terselip di dalamnya? Ya, sastra memang telah menjadi sebentuk urat nadi bagi pencipta sekaligus penikmatnya sehingga mereka tak bisa lepas dari sastra itu sendiri semudah menanggalkan pakaian.
(lagi…)

Fadli Akbar
Pada awalnya saya cukup tidak menduga bahwa tulisan saya tentang ‘teori sastra: sebuah perkakas analisis dan standar apresiasi’ ditanggapi dengan sangat kritis oleh Esha Tegar Putra (dan mungkin juga oleh teman-teman yang lainnya) dengan memunculkan wacana “adakah standar apresiasi sastra?”
(lagi…)
Posted by ruangsempit under
puisi [5] Comments

Devy Kurnia Alamsyah
Telah ku semai sebuah kasih
Telah ku tunai janji akan rindu masih
Kan ku dendang hembus sunyi dalam sepi
Dekap ku hangat menunggu pagi
(lagi…)