RioSy
kecuali sepatu yang tak membiarkan kita mendekam serupa anak sekolah.
sepasang kaki luput memilumilukan lagu dari bibirmu yang ditolak patahan libur.
kusapa manusia, kau temukan igau yang tak selesai menyebutnyebut kenangan.
tapi tak kutemukan danau di pelipis matanya.
menempuh umur yang belum hilangdari susunan jalan.
kita sebut jawaban ketika cerita menjadi lembing yang meluncur
jauh dan kita menapakinya tak lebih kecut dari langkahlangkah sepatu,
berubah menjadi yang lain. yang terketahui kemudian adalah
Tuhan tidak sedang menghukum kita.
(Ruangliku, 2008)