arif rizki

usah kau tikam batu itu sebelum kau sudahi tikai di dirimu.
kita habil dan qabil malam ini. bukan lagi


merupa datuk yang menyeterukan tongkat yang tanam di luhak-luhak
yang menggenangi badan kita
hilir bermudik kita jambangi kematian-kematian kecil dalam dada
dan langkahku kau genggam di hulunya.
juga tak selalu bisa berdekap dalam riak yang tenang . bahkan selepas hujan,
tunas pelangi tak jua mewajah di muka kita
di luar, lonsong peluru berlepasan dari bedil-bedil membidiki segala rindu dendam
maka mari butakan mata pedang. sebab batu itu belum waktunya kita tikam

RuangSempit, 2008