bulir air berjatuh dari rambutmu yang selebat hujan.
menggenang di halaman catatan-catatan yang ditoreh setiap perjumpaan.
ada yang berbasahan selain buku-buku yang dikemasi dalam jinjinganmu; sebuah
petuah yang kau kepalakan setingginya
Sabtu, Maret 29th, 2008
Maret 29, 2008
Maret 29, 2008
ArifRizki
di air tawar genggammu menjadi lain. bukan angin
yang sibuk atau gemuruh yang batuk. tetapi geletar yang tak terkata
dan betapa rel kereta tak mengantar kita kemana-mana.
Maret 29, 2008
arif rizki
usah kau tikam batu itu sebelum kau sudahi tikai di dirimu.
kita habil dan qabil malam ini. bukan lagi
Maret 29, 2008
RioSy
mari, kukepung kau semacam rahasia yang sedang menutup mulut.
memperjelas ukuran malam di sekeliling tubuhmu.
mari.
Maret 29, 2008
RioSy
jatuhlah wahai kapalterbang dari mataku
jatuhlah
kembalilah dari layang. bermimpi tanpa berharap semacam suatu
yang linap perlahan.
diam.
Maret 29, 2008
RioSy
kecuali sepatu yang tak membiarkan kita mendekam serupa anak sekolah.
sepasang kaki luput memilumilukan lagu dari bibirmu yang ditolak patahan libur.
Maret 29, 2008
RioSy
tak—terkatakan bahwa cuaca berkilat dalam linangan ingatan
ketika memasang cermin yang baru dibeli dari pasar.
Maret 29, 2008
rute menujumu telah dihapus dari peta. lampu tiada menyala, bahkan lentera.
sedangkan aku lupa kapan menempuhnya terakhir kali. entahlah, kau masih di sana.
betapa telanjang aku memilih rute ini.
kenapa mesti kau yang kutempuh tanpa lampu. menyalamnyalami
dengingnya perhitungan pada tiap petak arah. perjanjian kian berlari membantai
hitam matamu. hitam. semirip kenangan terbakar
jangan bakar lagi peta. apalagi dari airmata.
rute menujumu pula telah diubah dalam peta. jaraknya menjadi sekali waktu.
pulangkanlah aku walau tanpa peta. walau tanpa jarak ataupun lampu jalan.
tanpa menumpang.
rute menujumu kian tak ada. apalagi dalam airmata.
(Oase, 2008)
Maret 29, 2008
kusobekkan padamu lembaranlembaran kontrak dari sang nasib yang menyilau
menghantam mata. lepasnya kekasih, biarkan lepas. maka
kelak kan kau dermagakan mimpimu pada persentuhan siang dan malam
seperti ketika kukirim kesah padamu. hapuskanlah kesemuanya
dengan rasa berat dan ringan.
setiap kali aku menyobekannya untukmu, setiap kali itu pula ada bagian yang tak koyak.
kucium bau kertas, ada dawat mengombangambing. kecipaknya menyipaknyipak.
ku tahu riaknya tak dalam. namun tiada pernah kutemu dasarnya.
bagai peluh kukaji lagi setiap yang keluar dari dirimu. barangkali memang cuaca
yang sering merembes bersama bayangbayang.
semalam, lembaran kontrakmu kian panjang memuati darah.
sedang kau memanggilmanggil dari sekian peristiwa.
minyak tanah. korek api : di atas meja.
(Ruangliku, 2008)
Maret 29, 2008
-kepada bie yang tak pernah sangsi
doa dan kerelaanlah yang memutih di tapak kakimu melepas tanah yang telah asin
sebagai tempat kita menyimpan rekaman yang pangkumemangku
akrabi malammalam yang tak dihuni.di sana sepi akan berusaha keluar dari perutnya.
mawar tumbuh dari lumut dindingnya. aku menyusun kamar di dalamnya:
membaca kitab, meneguk bulan, menanak mimpi, dan nonton peradaban di televisi
dan ibuibu akan menyekolahkan anakanaknya di sini—harapku
kita tak lepas bersidekap meski lewat dada masingmasing
menghitung rabu nuju rabu berikutnya. bila rabu itu tiba, kita ‘kan meringkusnya dalamdalam. tapi aku tak bermaksud mengatakan ingin jadikannya pingsan
hanya agar dapat mengamati maklukmakluk nakal
seraya duduk di salah satu bangku taman
di sanalah terdapat jiwa paling intim
lebihi roti yang bahagiakan anakanak
kenyataannya kita menikah dalam mimpi, malam ini
(Ruangliku,2007)