Sabtu, Maret 15th, 2008


ruangsempit3.jpg

AndikaDestikaKhagen

pada lima titik dunia ku benamkan kepala.
oh sri, dimana kau simpan altar?
bahkan, madilog baru selesai kubaca sampai kata penghabisan.
simpan kuburanku, sri.
di relung matamu, kutitipkan kuburan itu. ketenagan kuserahkan padamu.
aku melayang, terbang, aku yakin tak kan kembali.
ini hukum, bukan ketentuan. ragaku adalah ragamu jua.
jauh sebelum altar disembunyikan, oh, kapan ini akan beujung?
altar itu, aku begitu rindu.
sri, ini amanat.
rohku rohmu jua.
RuangSempit, 2008

ruangsempit3.jpg

AndikaDestikaKhagen

kulit kuning sri menyambut kemuning.di rontok-rontok subuh yang menggelegar.
suara ayam jantan memekak gendang telinga
“jangan tidur lagi, sri.”
lambatlambat berjalanlah dajjal dari surgamenggandeng pagi, menyambut kemuning bersama sri
“kapan matahari berubah warna?”
pergilah bersamaku, sri.mumpung hari masih pagi
kemuning masih berwarna
ayam jantan belum berubah nyanyiannya
inilah tempat terindah kita
dajjal, aku akan bersamamu ke surga
malaikat mana yang akan cemburu
ruangsempit,2008/2

ruangsempit3.jpg

ArifRizki

Sajak-sajak bermenung di meja kamar
Mengantri sesak berpeluh berdebar
Menunggu disembelih—sebab wabah tak sudi memulih
Pengganti beras belumlah setara
Pula tak cukup berkelana
Maka kubiar sajak-sajak ini
Menanggung pesakitan hingga nanti mati pasti
Padang, desember 2007

ruangsempit3.jpg

ArifRizki


Kekasihku membangun nisan dalam sajakku ketika tungku sisakan abu
Aku maka bicara dalam rembang malam telanjang
“sunggingkan saja bibirmu,
akan kukejar bahagia walau satu debu .
tinta ini tak membangun rumah singgah, sayang
tapi membangkit istana sulaiman.”
Padang, desember 2007

ruangsempit3.jpg

ArifRizky

aku memagut keterjagaan yang kerap memenjara pengembaraan
hidup berawal dari mimpi kata seorang kawan
lalu kapan aku lagi mendendang sunyi dalam meditasi-
meditasi teka-teki yang mengunci
diri. kuharap bukanlah sekedar rangka menyeret-nyeret kesangsian;
ternyata ada bukit dibalik pendakian
hidup berawal dari mimpi kata seorang kawan
lalu akulah yang sangat fasih bermimpi
dan membuang pagi untuk mengejar petang

Padang, desember 2007

ruangsempit3.jpg

ArifRizky


Disini kita tak saling menemu diri. Sebab tak ada yang mesti dipertemukan
Diantara kepergian dan kepulangan.
Kau yang merajut payung; bilamana hatimu hujan saja tak peduli musim
Dan akulah yang selalu menolak pemberianmu
“bawalah, mendung sudah memberat.”
Aku tak perlu akannya. Bahagialah aku pada kekuyupanku
Seseorang telah membangun halte ini. tapi tiada yang menemu diri
Karena tak ada yang patut dipertemukan
Antara kepergian dan kepulangan

Padang, desember 2007

ruangsempit3.jpg

ArifRizky

Sejak sajak kurasa sejuk
Kupulang keibu mengadu untuk
‘pinangkanlah sajak untukku seorang,
biar kuskripsikan segembala padang’
Padang, desember 2007

ruangsempit3.jpg

ArifRizki


Aku mau saja melayani bumi menari-nari, jika kau urung berlari-lari
‘kebukit’
‘kebukit’ teriak rambu-rambu
dan kau abadikan kekangan gigil bersama corong-corong suara nyinyir
mari,
memanjat doa hingga kepucuk. Sebelum rambu-rambu corong nyinyir
kemari, mengajak berpacu lari

Padang, desember 2007

ruangsempit3.jpg

;rindu kemenakan

Arif Rizki


jauh sebelum rumput liar ditimbuni tanah merah di kepalamu
telah aku eja serumpun makna walau tak bersua
kita pernah berdua mengekori apa maunya abad, pun jua tersesat
saat mengejar kilat air yang coba beramah tamah di padang pasir
jauh sebelum rumput liar ditimbuni tanah merah di kepalamu
telah kau pahat sendiri
rupa nisan sehabis mengkhatamkan sunyi
‘jadilah superman.” katamu
ketika kumenangis pulang sekolah. dan kau menyanyi lagu lawas
aku terlalu kepompong untuk meraba makna yang tak bersua
kemenakan rindu kau jinjing, mak
namun pangku pupus jinjingan retak
tongkat tertanam dimakan rayap
dan kau pulang tak bilang-bilang
dalam igau rindu ku pajang
jauh sebelum rumput liar ditimbuni tanah merah di kepalamu
kusimpul saja makna baku:
sebuah bantal selimut tebal susu kental lebih ku kenal ketimbang menghafal sesal
tentang matahari yang padam di tungku api—lagi kau tangisi
kubilang aku terlalu kepompong untuk meramu madu dan mengasah pilu setajam paku
kaulah yang urung berkabar sebelum berkubur
perihal peti resah yang simpan rahasia; kesedihan

Padang, desember 2007

ruangsempit3.jpg

FadliAkbar


Tidak ada hal yang lebih menggemparkan Indonesia belakangan, khususnya bagi umat muslim, menerima kenyataan bahwa telah muncul seorang nabi baru sesudah nabi Muhammad. Dengan keyakinan serta prinsip metafisis yang dilaluinya, sang nabi baru muncul cukup frontal kedalam kehidupan masyarakat melalui pemberitaan-pemberitaan di media , khusunya televisi. Adalah sebuah usaha yang luar biasa kalau tidak boleh dibilang sebagai sebuah ‘strategi’ yang hebat atas publikasinya melalui televisi tersebut.
(lagi…)

Halaman Berikutnya »