Maret 2008
Maret 30, 2008
Maret 30, 2008
AndikaDestikaKhagen
“pergilah buyung, sulam sendiri bulan yang kuberikan padamu.”
Rentangkan tangan, buka bajumu.
Kau akan jadi burung, suatu hari.
Siluet akan merasuki birahimu.
Sendiri kusuruh kau menyulam
bulan kusut itu.
Ruang Sempit, 2007
Maret 30, 2008
AndikaDestikaKhagen
dari suatu lentera yang tak berwarna, timbullah keadaan yang dibuat
sedemikain rupa. tanpa cerita dan eligori akan warna dan nada.
saat yang terindah justru memalingkan makna.
masih ada ketidaknistaan dalam waktu dan nada yang terbengkalai
Maret 29, 2008
bulir air berjatuh dari rambutmu yang selebat hujan.
menggenang di halaman catatan-catatan yang ditoreh setiap perjumpaan.
ada yang berbasahan selain buku-buku yang dikemasi dalam jinjinganmu; sebuah
petuah yang kau kepalakan setingginya
Maret 29, 2008
ArifRizki
di air tawar genggammu menjadi lain. bukan angin
yang sibuk atau gemuruh yang batuk. tetapi geletar yang tak terkata
dan betapa rel kereta tak mengantar kita kemana-mana.
Maret 29, 2008
arif rizki
usah kau tikam batu itu sebelum kau sudahi tikai di dirimu.
kita habil dan qabil malam ini. bukan lagi
Maret 29, 2008
RioSy
mari, kukepung kau semacam rahasia yang sedang menutup mulut.
memperjelas ukuran malam di sekeliling tubuhmu.
mari.
Maret 29, 2008
RioSy
jatuhlah wahai kapalterbang dari mataku
jatuhlah
kembalilah dari layang. bermimpi tanpa berharap semacam suatu
yang linap perlahan.
diam.
Maret 29, 2008
RioSy
kecuali sepatu yang tak membiarkan kita mendekam serupa anak sekolah.
sepasang kaki luput memilumilukan lagu dari bibirmu yang ditolak patahan libur.
Maret 29, 2008
RioSy
tak—terkatakan bahwa cuaca berkilat dalam linangan ingatan
ketika memasang cermin yang baru dibeli dari pasar.