Euforia kemerdekaan menggema di seluruh negeri Indonesia. Bendera merah-putih berkibar penanda masih ada rakyat yang peduli pada arti kemerdekaan. Pada hari ini, Bung Karno disebut, Bung Hatta dipuja, dan pahlawan lain dikenang. Eforisme kemerdekaan menusuk sanubari. Ini hari untuk mengenang penjajahan kolonial yang menyakitkan dan meruntuhkan moral bangsa. Dalam lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan dengan khidmat, tertanam sebuah semangat untuk tidak lagi dijajah, apalagi ditindas.
(more…)
Agustus 14, 2008
Agustus 14, 2008
Bila bagi kaum Pythagoras atau kaum matematika, dunia adalah angka-angka maka bagi orang sastra dunia adalah fiksi, dengan kata lain dunia di bentuk oleh fiksi. Begitulah terlebih dan kurangnya.
(more…)
Agustus 14, 2008
“Sayangnya aku hidup di jamanmu. Zaman yang sulit kumengerti, namun berusaha terus kupahami.” Ada makna tersembunyi di balik kata-kata yang diucapkan Dedy Mizwar dalam film Nagabonar jadi 2. Ia tak hendak berbicara penyesalan, justru mencoba menerima keadaan yang di luar batas pikirannya. Keadaan muda, keadaan realitas kini yang diperbentangkan. Keinginan muda—sebuah keinginan yang tanpa tara dan seolah tak mengenal lara. Lara bisa saja bearti ‘dunia lain’ pertentangan: dunia pemberontakan, dunia pemikiran, dunia sadar akan cita-cita. ‘Dunia lain’ tak bermakna sempit. Cendrung mengarah kepada dimensi pencapain. Tak selalu bersifat universal, jelas sebuah identitas yang beragam. Beragam. Betapa kata tersebut begitu tinggi ranah oksiologinya.
Agustus 14, 2008
Menciptakan Ruang Sadar Sastra: Membangun Pola Pikir yang Kritis
Posted by ruangsempit under essay1 Comment
Arif Rizki
Ketika masa kejayaan Islam dipimpin oleh khalifah Harun Al-Rasyid, sastra lisan cukup mendapat tempat yang terhormat bagi masyarakat. Banyak penyair-penyair diundang ke istana untuk memberikan nasihat-nasihat serta pemikiran cemerlang yang inspiratif sekaligus menghibur. Ketika itu Harun membina suatu hubungan karib dengan seorang pencerita yang bernama Bahlul. Ia merupakan pencerita yang sangat disenangi oleh baginda raja, sehingga ia leluasa masuk-keluar istana sesukanya. Suatu siang Bahlul berkunjung ke istana untuk menemui Harun Al-Rasyid. Ketika ia tiba di istana, ia tidak menemukan siapapun di balairung. Barangkali baginda dan para pengawalnya sedang makan siang dan beribadah, pikirnya.
(more…)
Juli 2, 2008
Kultur dan Kesukuan dalam Karya Sastra Mutakhir Sumbar: Sebuah Politik Desentralitas?
Posted by ruangsempit under essayNo Comments
FadlyAkbar
Adalah sebuah keniscayaan agaknya, sebuah karya sastra lahir atas zaman (ruang dan waktu) yang membentuknya. The Old Man and The Sea ditulis Ernest Hemingway dalam masyarakat yang konon berpandangan liberal; The God of Small Things dan Bumi Manusia karya Arundhati Roy dan Pramoedya Ananta Toer lahir dizaman pasca penjajahan dimana pribumi terkatung-katung dalam ke-krisisan identitasannya. Tentunya, masih banyak karya-karya lainnya yang terbentuk sebagai tanggapan atas zamannya.
(more…)
Juni 28, 2008
Andika Destika Khagen
Seharusnya aku berbahagia menerima kenyataan: anak pertamaku lahir. Persis seperti istriku yang sedang tersenyum di samping bayi mungil itu. Aku Ayahnya yang turut serta membantu ia lahir. Kebahagiaan itu mestinya bertambah. Bayi merah yang kini masih menangis adalah anak pertamaku—mungkin—juga anak terakhir. Setelah kelahiran bayi itu, istriku didaulat tak lagi boleh melahirkan. Ia terkena kanker rahim.
(more…)
Juni 20, 2008
RADIT DAN JANI: POLITIK ANAK MUDA DAN TAFSIR ATAS REALITAS
Posted by ruangsempit under essayNo Comments
FadlyAkbar
Dalam perkembangannya, budaya pop ( baca juga sinema pop) adalah sebuah lahan yang dipenuhi kontroversi. Ia telah menuai perdebatan yang sengit terutama sekali jika dihubungkan dengan keberadaannya sebagai referensi akademis dan ilmiah. Karya pop lebih sering dianggap sebagai karya yang tidak layak diperbincangkan secara ilmiah karena tidak mengandung nilai-nilai ‘kekekalan’ seperti karya sastra berkelas. Bahkan Thomas J. Roberts menyebutnya sebagai junk, sesuatu yang bersifat sampah. Hal ini mungkin saja dipahami oleh Robert karena kebanyakan karya pop lebih bersifat dan berorientasikan menenangkan benak pembaca atau audiensnya. Ia lebih bersifat menghibur, memuaskan keinginan-keinginan pembaca atau audiens, dan bukan untuk membebani mereka dengan hal-hal yang serius.
Juni 15, 2008
Arif Rizki
Sudah berjam-jam Pidiq memperhatikan tanda itu. Tapi ia tak juga merumuskan jawaban; kiranya apa yang ia risaukan. Ia teguh-teguhkan hatinya untuk tetap bertanya, apa yang tengah ia risaukan dengan tanda itu. Sepatutnya tak ada yang perlu ia cemaskan. Tapi ia merasa ada yang perlu ia pikirkan—berjam-jam.
Juni 7, 2008
Mei 15, 2008
Andika Destika Khagen
Muhammad Hatta pernah menuliskan tentang ciri utama penjajahan dalam Buletin Indonesia Merdeka “Di dalam negeri yang terjajah, hukum dan keadilan merupakan kata-kata kosong belaka, yang begitu sering diucapkan oleh pihak penjajah apabila mereka naik ke atas panggung internasional. Di balik layar mereka bersuara lain.”






