Yang dibutuhkan bukan hanya bahan yang bagus, tetapi juga kecakapan mengolahnya. Tuntutan ini berlaku bukan hanya dalam penulisan sastra, tetapi juga dalam telaah sastra, bahkan dalam kegiatan tulis-menulis pada umumnya. Jika bahan sastra Indonesia bisa digali dari pelbagai penjuru nusantara, bahkan belahan bumi lain, begitu juga seharusnya dengan kecakapan menuliskannya. Sejenis keahlian yang kami percaya akan membuat sastra Indonesia berkembang dan berdiri sejajar dengan sastra-sastra dari belahan bumi lainnya. Salah satu kenyataan yang harus kita terima adalah telaah sastra tidak tumbuh subur di negeri agraris ini. Bukan hanya karena hampir tidak ada media yang secara khusus memuat telaah sastra, tetapi juga kurangnya rangsangan agar kelak ia bisa tumbuh subur, cemerlang, dan inspiratif. Untuk merangsang kelahiran telaah sastra yang diharapkan, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyelenggarakan kembali sayembara telaah sastra.
(lagi…)

Oleh Novriandi Putra

Ku usap muka ini dengan pasir, gesir hingga desir berbisik,lalu kuraba dadamu dalam gerusan terik yang tak terusir.

Dan,Timbanglah kata-kata pada batu, lalu menjawab waktu

Khafilah kan terus berlalu pada gurun gurun pasir dan waktu yang membatu pada ujung kata-kata, yang luka pun membeku disetiap saku-saku yang terkulai layu

demokrasi1
Arif Rizki

Tahun 2009 adalah tahun yang penuh debar. Ruang-ruang publik dan ruang-ruang politik telah bercampur-baur dengan slogan-slogan, spanduk dan poster-poster para elit yang menawarkan berbagai macam tanda yang akhirnya mengarak-arak semuanya kepada sebuah isu simulakra politik yang menawarkan sebuah realitas dimana tanda dan cintra telah terdistorsi, tereduksi, menyimpang, terkikis, bergeser dan kabur dari realitas yang sebenarnya. Kita digiring masuk kedalam sebuah ruang yang penuh alibi, tak ada satupun tersangka di situ.

(lagi…)

oleh: Eka

waktu,
pejamkan mataku ketika
sudah tak ada lagi kata
yang perlu dibahasakan
ketika tak ada lagi bahasa
yang perlu diucapkan

waktu,
pejamkan mataku
ketika jarak antara kita
sudah tak jadi rahasia

dsc02084Kampus menjadi pilihan ruang kreatif untuk melaksanakan diskusi berbagai tema. Dari persoalan minat, intensitas peserta, dan beragam pembacaan terhadap ilmu pengatahuna, sains, dan budaya dihadirkan di kampus. Karena memang kalangan mahasiswa memang lebih banyak mempunyai waktu luang untuk hal-hal yang berbau diskusi.
Begitu juga dengan Diskusi Sastra Sumatra Barat (DSSB) yang diadakan di ruang sidang Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Negri Padang (UNP), Sabtu pekan yang lalu (3/1/2009). DSSB yang sudah masuk putaran ke-tiga dan Unit Kegiatan Kesenian UNP disepakati untuk memotori acara. Kegiatan yang berlangsung sekali tiga bulan tersebut sudah berlangsung sebelumnya di Komunitas Seni Intro Payakumbuh dan Fakultas Sastra Universitas Andalas.

Menurut Dela (27) anggota komunitas seni Intro sekaligus penitia perdana acara menjelaskan bahwasanya kampus telah menjadi sasaran titik tolak untuk melaksanakan kegiatan seperti ini, karena kampus merupakan pusat informasi global.
(lagi…)

coolstuff_ieme05244820_iRio SY

Salah satu pandangan Baudillard yang berhubungan dengan cara hidup masa kini, bahwa diri kita, dikatakannya berada di dalam era akhir rahasia. Artinya segala sesuatu yang tabu dan segala yang seharusnya tidak dibuka telah berakhir. Masuk pada era kebebasan dan keterbukaan.

Di barat penghancuran tabu itu diwakili oleh Madonna, Britney Spears, sedangkan di Indonesia barangkali adalah Agnes Monica atau Dewi Persik. Mereka adalah perpaduan dekonstruksi terhadapa nilai-nilai luhur (tabu, moral, mitos, spiritual) melaui penggunaan tubuh sebagai sebuah tanda dalam kehidupan.

Sesungguhnya tabu memiliki peran yang sangat penting dalam mendefenisikan dan membentuk dunia penampakan atau dunia objek. Tabu merupakan setu mekanisme sosial yang bersifat abstrak dan berfungsi memberikan batas-batas bagi manusia dalam mengekspresikan diri mereka melalui dunia objek. Tabu memberikan rambu-ramb mengnai apa yang pantas, kurang pantas, dan tak pantas untuk dilihat, dipertontonkan, dilakukan dalam suatu system sosial.

(lagi…)

Diskusi Sastra Sumatera Barat I dan II telah sukses dilaksanakan oleh Komunitas Seni Intro dan HMJ Sastra Indonesia Universitas Andalas. Untuk ketiga kalinya acara “Diskusi Sastra Sumatra Barat” dilaksanakan yaitu pada tanggal 3 Januari 2009 di Ruang Sidang PKM UNP. Kali ini Unit Kegiatan Kesenian Universitas Negeri Padang bekerjasama dengan Komunitas Ruangsempit menjadi tuan rumah acara dengan tema “Sastra Pop: Defenisi hingga Posisi dalam Kesusasteraan Indonesia”. Menghadirkan Fadli Akbar (kritikus sastra) sebagai pembicara dengan moderator Andika Destika Khagen (cerpenis). Dan sebagai pembukaan akan diisi dengan musikalisasi puisi oleh anggota Unit Kegiatan Kesenian.

Acara yang dilaksanakan setiap sekali dalam tiga bulan ini sekaligus merupakan bentuk kepedulian terhadap perkembangan sastra di Indonesia umumnya dan Sumatera Barat khususnya.

bay-rs346

Andika Destika Khagen
[Dimuat Harian padang Ekspress, 7 Desember 2008]

Telah lama kutunggu Hasim di ruang tamu. Ia akan datang hari ini. Mungkin sebuah pertemuan yang tak terkendali. Aku menunggunya tak ramah, juga tak akan tersenyum. “Percayalah. Aku mesti tegas.” Pintu pagar sengaja tak dikunci dan diperbiarkan terbuka lebar. Aku ingin ia melihatku gelisah sebelum duduk di sampingku. Atau ciut sebelum nalarnya jalan dan amarahnya meletup. Aku harus benar-benar siap.
Baiklah. Hasim telah datang. Sengaja aku tak menoleh kepadanya. Barangkali ia akan menyapa, “Aku memenuhi janjimu. Mari kita berdebat.” Tapi tidak, ia hanya duduk diam seperti batu. Barangkali ia tahu apa yang ada dalam pikiranku sekarang ini. Aku melihat gerak-geriknya seksama.
“Jadi apa yang kau inginkan Hasim?” Telah lama kutunggu ia bersuara, atau sekedar bertanya, “Apa kabar hari ini?”. Namun, tak juga kata itu keluar dari mulut Hasim. Ia hanya diam. Tak menoleh juga.
(lagi…)

RioSY
[ Dimuat di Lampung Post, 12 Oktober 2008 ]

IA duduk berjuntai kaki di bagian belakang bak pedati. Bersandar pada papan menyanggah tumpukan padi yang berkarung-karung banyaknya. Ia terus memandangi segala yang ditinggalkan.
Ia menahan napas.

Derak kayu bak pedati makin berisik dan keras bunyinya. Tumpukan padi itu sedikit berayun. Seperti mau runtuh. Pedati bagai mau patah.

Tentu. Tentu saja pedati itu berderaknya kuat sekali karena beban yang ditanggungnya tidaklah sedikit. Di atas bak itu ada beberapa karung padi yang tumpukannya melebihi tinggi bak. Padi yang hendak dibawa ke Balaiselasa. Sebab, di sana perputaran uang jual beli beras lebih cepat dibanding dengan Painan. Jadi begitulah seorang pedagang mengharapkannya sehingga Balaiselasa menjadi salah satu tempat pilihan yang memenuhi syarat bagi si tukang pedati tersebut.
(lagi…)

ArifRizki
[ Harian Singgalang, 7 September 2008 ]

lama aku tak menjemputmu dengan kuda ini.
kuda yang dulu bising derapnya dikalahkan oleh gedebar jantungku
ketika hendak menjemputmu yang bermenung
di batas rindu dan sepi yang memburu
(lagi…)

Halaman Berikutnya »